Kamis, 23 Oktober 2008

SATU POHON DI DUA MUSIM



Judul : Pergilah Ke Mana Hati Membawamu (Va Dove Ti Porta Il Cuore)
Pengarang : Susanna Tamaro (diterjemahkan oleh Antonius Sudiarja, SJ)
Penerbit & tahun : Gramedia Pustaka Utama, 2004
Tebal : 216 hlm


Sebuah novel. Sebuah surat. Sebuah diari. Sebuah kenangan dan pengakuan. Di dalamnya kita akan membaca bahwa manusia masih bisa berarti bila ia masih memiliki hati. Hati adalah satu-satunya benteng pertahanan kemanusiaan yang terakhir, yang tetap menggeliat pada setiap musim yang bergulir.

Olga, seorang nenek ringkih, kemarin baru menyadari bahwa tubuhnya mulai rapuh dan kasur kini menjadi sahabatnya. Ia sendirian, satu-satunya keluarga yang ada, yang dicintainya tidak ada di sampingnya. Ilaria, sang cucu, telah meninggalkannya di rumah dengan pintu yang terbanting, dan muka membelakangi. Olga sendirian, dan dalam kesendiriaannya itu ia membuat sebuah “pengakuan” – sebuah diari yang bertutut tentang kasih yang tak sampai, yang ditulis dengan hati. Semua itu ditujukan kepada Ilaria, sang cucu yang meninggalkannya dengan luka tertoreh di hati.

Membaca novel ini, kita tahu bahwa nuansa kejujuran dan rekonsiliasi begitu kental. Dua hal ini memang dirasakan sebagai hal yang perlu ketika manusia ingin menciptakan keintiman dalam hubungannya densan sesama. Jangan bilang bahwa keintiman adalah sesuatu yang hanya didambakan oleh wanita (yang dengan begitu halusnya tergambarkan dalam novel ini), semua manusia memerlukannya; bahkan bisa dikatakan bahwa sesunggunya pria lah yang sangat membutuhkannya, karena selama ini dunia sudah begitu keras dan kaku, kejam dan karam.
Susanna Tamaro, sang pengarang, adalah sosok pengarang yang begitu enggan akan dunia ketenaran dan kegaduhan. Menurutnya, ketenaran mengandung duri. Tak mengherankan bila ia juga menulis novel masterpiece –nya ini dalam suasana yang hening, yang hanya bisa dinikmati dalam keheningan. Dan keheningan adalah suasana yang bermukim di hati. Di masa kini rupanya banyak orang merindukan “hati”, mencoba ber-“hati” dan untungnya tidak sedikit yang memiliki “hati”. Tak heran bila pada tahun 1994 novel ini diganjar “Donna Citta di Roma”, sebentuk penghargaan prestisius di Italia, sebuah tanda yang menegaskan bahwa masih banyak orang yang memiliki dan merindukan hati.

Tapi bukan berarti gagasan daalam novel ini berhenti pada kesunyian hati macam itu. Ada kelindanan gagasan filosofis di dalamnya: tentang hidup, tentang cinta, tentang keluarga, rasa benci, dsb, juga tentang misteri. Kita segera mengerti bahwa kelindanan filsafat di dalamnya bukanlah sekedar “pengantar”, itu adalah sebuah gagasan yang mendalam. Dan dengan begitu cerdasnya, gagasan filosofis itu terbalut dalam bahasa metafor. Novel ini begitu banyak memuat metafor-metafor yang cerdas.

Apa yang menyebabkan novel ini menjadi suatu keharusan, suatu karya yang harus dibaca? Tidak ada… karena hati tidak pernah memaksa, dan setiap paksaan hanya akan menghasilkan kejemuan. Tapi bila kita ingin membacanya sampai lembar terakhir kita jadi tahu bahwa kita masih memiliki dan merindukan hati.

1 komentar:

  1. boleh nich pinjam bukunya. tapi bahasanya ga muter2 tho? cepek gue baca iwan simatupang. isinya kupikir hanya orang2 stress yang mencapai tahap gila:) tau ah apa itu eksistensil:( gelap...

    BalasHapus


Free Blogspot Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger