Minggu, 19 Oktober 2008

Negative Theology and Modern French Philosophy


Judul : Negative Theology and Modern French Philosophy
Genre : Teologi Filosofis (Philosophical Theology)
Penerbit : Routledge, 2004
Pengarang : Arthur Bradley
Halaman : 224 hal


“Theological Turn”

Sesungguhnya dari judulnya saja, para pembaca sudah bisa mengira-ngira apa yang ada di dalam buku ini, yaitu pengeksplorasian Teologi Negatif (selanjutnya disingkat TN) dalam denyut-denyut filsafat Prancis modern. Namun, ini bukan sembarang eksplorasi. Ini adalah sebuah usaha pencarian berteologi di jaman atheologi, dan yang membuat buku ini sangat layak diperhitungkan adalah gada yang digunakan untuk meratakan persoalan yang ada: dekonstruksi a la Derridean! Ya, betul Derrida filosof dekonstruktif itu! Dalam karya-karyanya yang terakhir Derrida ternyata memberikan perhatian pada tema-tema yang berbau-bau teologi: “faith”, “religion”, “prayers of tears”.

Sebenarnya, teologi di Prancis (bahkan mungkin dunia) sudah kembali mulai dihidupkan, maka tema-tema religius menjadi suatu alternatif yang mengagumkan dan tidak memalukan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dan problematika yang menghantui dari dekonstruksi sampai fenomenologi, dari genealogi sampai psikoanalisa. Betul, bahwa saat ini telah terjadi “teological turn”. Namun, dari berbagai isu teologis yang ada, manifestasi isu yang paling jelas terlihat, penuh dengan enigmatika, dan sangat mengejutkan adalah meriahnya ketertarikan para pemikir dunia dengan Teologi Negatif, atau nama lainya Teologi Apopatik, atau sederhananya, jalan negatif (via negativa). Dan Derrida adalah satu-satunya pemikir yang secara gamblang berteriak: “Sauf le nom!” (Saving the Name) bagi teologi ini. Tentu, tidak ada yang istemewa dalam teriakan ini kalau saja bukan Derrida yang berteriak, karena di tangan dan pikiran Derrida proyek utamanya berkaitan dengan tema ini adalah an attempt to repeat it differently.
Maka TN tidak lagi menjadi sesuatu yang sebagaimana biasa telah kita ketahui bersama.
Untuk memperkokoh pemikiran mengenai TN yang ditawarkan secara baru, sang pengarang buku menggunakan juga metode komparatif yang cukup menarik. Menarik, bukan karena tokoh-tokoh yang digunakan sebagai komparasi adalah tokoh-tokoh yang berkelas (Michael de Certeau, Jean-Luc Marion, Michael Foucault dan Julia Kristeva), namun terlebih-lebih bagaimana Derrida membentangkan kemungkinan TN ini dalam filosof-filosof di atas yang jelas-jelas bersikap berseberangan dengan TN nya Derrida, bahkan dua tokoh terakhir di atas (Foucault dan Kristeva) jelas-jelas berada di luar ranah teologi. Komparasi ini hendak meneguhkan sebuah ide bahwa TN merupakan sebuah alternatif jaminan berteologi dijaman kiwari.


Semesta Derrida

Apa yang menarik dari TN yang dibaca secara berbeda oleh Derrida?
TN adalah sebuah gelar untuk tradisi teologis yang menekankan bahwa yang ilahi tidak akap pernah bisa dimengerti dalam kerangka pemikiran manusiawi karena yang ilahi itu sungguh-sungguh total transenden. Oleh karena itu, dalam rumusannya TN tidak pernah menggunakan bahasa-bahasa positif ataupun antropomorpik, namun melalui bahasa negatif, bahasa-bahasa paradok dan kontradiktif, yang jelas menggunakan bahasa-bahasa yang menekankan ketidakadekwatan bahasa manusia untuk merumuskan transendensi Sang Ilahi. Atau sederhananya, TN adalah teologi yang mengatakan apa yang bukan Tuhan itu ketimbang sebalikya. Singkatnya, TN mencoba untuk menekankan keberbedaan radikal Tuhan dari segala pencitraan manusia akan Tuhan dan dengan demikian mengaffirmasi Tuhan sebagai sosok yang absolut tak bisa diketahui, dikomprehensikan, dan tak terreduksi oleh segala usaha pemikiran manusia.

Derrida tidak melihat dengan kacamata yang biasa seperti di atas tersebut sehingga potensi dari TN bisa dioptimalkan. Jika kita menggunakan rumusan dan arti di atas, sesungguhnya kita bisa melihat bahwa apa yang mau disasar oleh TN persis sama dengan Teologi Positif, hanya dengan jalan yang berbeda. Bahkan, sebagaimana disinyalir oleh Derrida, kedua bentuk teologi ini ada dalam kerangka berfikir onto-teologi yang menjadikan pemikiran mengenai Tuhan terkontaminasi dalam jerat metafisika, jerat Being. Ini pada akhirnya, tetap memenjarakan Tuhan dalam konsep yang terbatas. Oleh karena itu, sebetulnya dua cara berfikir ini perlu distigmatakan, didekonstruksi. Namun, lantas mengapa Derrida hendak ingin mempertahankan TN, jika jelas-jelas terbuktikan bahwa TN adalah wajah lain dari onto-teologi? Jawabannya sederhana: karena sesungguhnya jika kita bisa melihat TN secara berbeda maka di dalamnya kita akan menemukan nebula-nebula yang tersembunyi, beraneka-ragam, berlimpah-ruah yang merupakan potensi berteologi yang sangat dahsyat. Jika kita bisa membacanya secara berbeda, TN bukanlah obyek dekonstruksi melainkan dekonstruksi itu sendiri!

Dalam pembacaan yang berbeda terhadap TN Derrida menemukan bahwa TN adalah sebentuk perjalanan menuju sesuatu yang berbeda belaka (“passage to the totally other”). Perjalanan ini menghantarkan Derrida pada konsep mengenai “hospitality”, bukan sekedar hospitalitas biasa, namun hospitalitas yang radikal: yang menyambut perbedaan (yang total), kontradiksi (yang total), dan ambiguitas (yang total) dengan ramah di rumah pikiran kita.

Jejak-jejak harapan

Apa yang bisa dibentangkan sebagai kemungkinan terbaik dari pemikiran Derrida dalam buku ini?

Pertama
, kristianitas diajak untuk mampu menampilkan dirinya sebagai sebuah agama yang terbuka terhadap kemungkinan tak bersyarat melihat other religions dan the other of religion dalam kerangka suasana yang toleran, diwarnai hospitalitas, serta semangat ekuminikal. Sangat jelas, dialog antar agama bisa diantar menuju sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih tulus.

Kedua,
TN yang dibaca secara berbeda oleh Derrida menuntut kita untuk membayangkan sebuah relasi yang non-monolitik, kerangka yang plural dan fraktal antara filsafat dan teologi, sehingga masing-masing disiplin ilmu di atas semakin mampu memurnikan identitas dirinya masing-masing sehingga menghindari kesewenang-wenangan menyingkirkan satu sama lain. Dengan demikian, pada akhirnya, setiap saat dalam sejarah relasi antara filsafat dan teologi bisa di rumuskan ulang sebagai tidak lain dari pada ritme dan ekonomi yang tak terhindarkan dari ketidakstabilan yang tiada henti di dalam masing-masing ilmu itu sendiri.

Ketiga,
TN a la Derrida mengajak kita untuk mampu menjungkirbalikan fatalitas dalam segala konsep yang kita miliki dan mentransformasikan fatalitas itu menjadi kesempatan untuk melahirkan etika-politik yang jauh lebih baik, jauh lebih bertanggungjawab terhadap sesama, secara konkret TN bisa dijadikan dasar untuk memberikan ruang terhadap persoalan imigrasi atau pun pencari suaka, dll.

0 komentar:


Free Blogspot Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger