
Judul : TIME
Sutradara : Ki-Duk Kim
Skenario : Ki-Duk Kim
Pemain : Hyeon-A Seong, Jung-Woo Ha, Ji-Yeon Park
Ki-Duk adalah rekonstruktor, seorang peramu mozaik yang telah diluluhlantahkan oleh eksterioritas. Setiap scene dalam film-filmnya bukan sekadar sebuah huruf-huruf yang membentuk kata, namun garis-garis yang berakhir pada penciptaan semesta interioritas manusia yang seringkali tak terkatakan. Film yang keduabelasnya ini, juga berbicara tentang interioritas manusia. Namun interioritas yang paling eksterior; sebuah ineksterioritas manusia: wajah. Dalam film ini, ineksterioritas manusia menemukan maknanya yang terdalam: ia berpilinan dengan sesuatu yang paling tidak bisa digenggam manusia: waktu.
Se Hee (Hyeon-A Seong, “Cello”, “The Costumers is Always Right”) berteriak di depan wajah Ji Woo (Jung-Woo Ha, “The Unforgiven”, "Lover in Prague”), kekasihnya, di dalam sebuah cafe. Ia marah bukan karena sang kekasih hatinya itu disinyalir senantiasa menggerakkan mata menuju wanita-wanita lain yang berkeliaran di sekeliling mereka. Se Hee marah karena Ji Woo tidak menjadikan wajahnya pusat alam semesta. Sebetulnya kemarahan jenis ini adalah kemarahan yang biasa sekali karena setiap kekasih pasti menginginkan dirinya sebagai pusat belaka dari pasangannya; yang menjadikan kemarahan Se Hee tidak biasa adalah saat ia menyadari bahwa ternyata wajahnya tidak lagi menjadi jaminan perekat relasi yang telah tiga tahun ini dibina. Di dorong oleh cinta yang tak terperi kepada Ji Woo, Se Hee membuat keputusan edan: membedah wajahnya agar berbeda dan sejenak menghilang. Ji Woo kelimpungan ditinggal Se Hee yang menghilang tanpa ba-bi-bu, dan di dalam sebuah pencarian yang sia-sia, Ji Woo semakin menyadari bahwa cintanya memang semata pada Se Hee. Dan hidupnya pun dirasakan hampa.
Dalam kehampaan hidup, setelah berpisah selama setengah tahun dengan Se Hee, Ji Woo berjumpa dengan seorang wanita yang memiliki nama tulis yang sama namun berbeda lisan dengan kekasihnya dulu, Se Hee (Ji-Yeon Park, “Oh Happy Day”, “Wishing Stair”). Mereka memadu cinta, berkasih-kasihan. Ini bukan film thriller, apalagi misteri, maka penonton tanpa membutuhkan waktu yang lama bisa menebak bahwa Se Hee yang sekarang adalah Se Hee yang dulu dengan wajah yang baru. Perjalanan cinta mereka begitu hangat sampai pada akhirnya Ji Woo mengetahui siapa dibalik wajah Se Hee yang sekarang. Persis semenit sebelum credit title tampil dan layar tidak lagi perak, Ki-Duk membetot perhatian penonton dengan thriller yang paling thriller, misteri yang paling misterius. Sebuah ending yang sangat cerdas untuk membuat penonton tidak segera beranjak dari bangkunya karena dihantui tanya: “kanapa?”, “kok bisa?”, “apa maksudnya?”, dan saya sendiri mengakhiri pertanyaan-pertanyaan itu dengan satu kata ini: “dasyat!”. Kedasyatan film inilah yang akan saya uraikan berikut ini.
Salah satu kerinduan manusia adalah mencoba untuk menjejakan kaki dengan lebih pasti, ajek, dalam waktu yang senantiasa bergerak. Kerinduan ini bermuasal dari hasrat untuk menjadi axis mundi, pusat dunia, karena bila demikian yang terjadi maka manusia akan merasa abadi dalam ketidakabadiannya, dalam waktu yang bergerak. Merasa abadi adalah sesuatu yang penting untuk merelatifkan kenyataan yang sesungguhnya relatif. Ini adalah cara manusia untuk berdamai dengan sesuatu yang berada di luar dirinya, yang tidak bisa digenggam, yang mengelak untuk dipermiskin. Tidak ada yang salah dengan hasrat ini, cara berdamai ini, bahkan kita memiliki instumentalia untuk mendekati hasrat ini (akal budi, misalnya). Menjadi sesuatu yang ngawur ketika, dan hanya ketika, manusia tidak lagi mensyukuri kenyataan hidup yang relatif dan tidak lagi bisa melihat ada sesuatu yang berharga dalam ketidakabadian. Dan sesungguhnya, dalam kesadaran akan relativitas dan ketidakabadiaan inilah terbentang kemungkinan untuk menyentuh yang mutlak, sang keabadian.
Saya teringat akan Levinas, yang dengan sangat jitu merumusakan hal ini. Dalam wajah setiap manusia (yang tidak abadi itu!) ada sesuatu yang telah menghilang, namun masih menyisakan ampas; ada sesuatu yang telah lewat, namun menyisakan jejak. Levinas menyadarkan kita bahwa dalam eksterioritas manusia yang terepresentasikan melalui wajah, terpantulah dengan gamblang gemilang interiotitas manusia sebagai citra Sang Mutlak. Atau dengan bahasa lain, interioritas Sang Mutlak mereabsensikan diri melalui ekseterioritas wajah manusia. Wajah manusia adalah undangan untuk mengikuti jejak yang tersisa, sesamar apa pun jejak itu; dengan demikian manusia bisa untuk mencicipi kelebat keabadian, kemutlakan.
Se Hee tidak menyadari bahwa dengan bedah wajah untuk memuaskan hasratnya menjadi abadi, menjadi pusat dunia, ia justru menghapus sama sekali jejak keabadian dalam dirinya, membuang ampas kemutlakan dalam hidupnya: ia menjadi anonim: tak berwajah, dalam arti ia bisa menjadi siapa saja dan karena itu ia bukan siapa pun. Tak ada undangan keabadian dalam dirinya. Ki-Duk mengakhiri paragraf terakhir ini dengan scene yang sungguh tepat. Dahsyat!
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan kata-kata Alan Lightman dalam Einstein’s Dreams tertanggal 14 Mei 1905: “Ada suatu tempat di mana waktu berhenti. Butiran air hujan bergelantungan kaku di udara. Bandul jam bergerak separuh ayunan. Anjing-anjing mengangkat moncong mereka dalam lolongan sunyi. Pejalan kaki membeku di jalanan berdebum seakan kaki mereka terjerat tali…. Siapakah yang melakukan perjalanan ke pusat waktu itu? …. Mereka memilih kebahagiaan yang abadi, tak penting bahwa keabadiaan itu kaku dan beku laksana kupu-kupu yang diawetkan dalam suatu kotak”. Kupu-kupu bukanlah kupu-kupu saat ia tidak lagi bisa mengepakkan sayapnya; manusia adalah manusia saat ia tetap bisa dan berani mengepakkan tangannya untuk melayang-layang dalam hidup yang tak abadi, dalam kesementaraan.
Kamis, 23 Oktober 2008
WAJAH DALAM WAKTU; WAKTU YANG MEWAJAH
Label: Film, Philosophy, Wajah, Waktu
Diposting oleh tejo di 19.49
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar