Kamis, 23 Oktober 2008

WAJAH DALAM WAKTU; WAKTU YANG MEWAJAH



Judul : TIME
Sutradara : Ki-Duk Kim
Skenario : Ki-Duk Kim
Pemain : Hyeon-A Seong, Jung-Woo Ha, Ji-Yeon Park

Ki-Duk adalah rekonstruktor, seorang peramu mozaik yang telah diluluhlantahkan oleh eksterioritas. Setiap scene dalam film-filmnya bukan sekadar sebuah huruf-huruf yang membentuk kata, namun garis-garis yang berakhir pada penciptaan semesta interioritas manusia yang seringkali tak terkatakan. Film yang keduabelasnya ini, juga berbicara tentang interioritas manusia. Namun interioritas yang paling eksterior; sebuah ineksterioritas manusia: wajah. Dalam film ini, ineksterioritas manusia menemukan maknanya yang terdalam: ia berpilinan dengan sesuatu yang paling tidak bisa digenggam manusia: waktu.




Se Hee (Hyeon-A Seong, “Cello”, “The Costumers is Always Right”) berteriak di depan wajah Ji Woo (Jung-Woo Ha, “The Unforgiven”, "Lover in Prague”), kekasihnya, di dalam sebuah cafe. Ia marah bukan karena sang kekasih hatinya itu disinyalir senantiasa menggerakkan mata menuju wanita-wanita lain yang berkeliaran di sekeliling mereka. Se Hee marah karena Ji Woo tidak menjadikan wajahnya pusat alam semesta. Sebetulnya kemarahan jenis ini adalah kemarahan yang biasa sekali karena setiap kekasih pasti menginginkan dirinya sebagai pusat belaka dari pasangannya; yang menjadikan kemarahan Se Hee tidak biasa adalah saat ia menyadari bahwa ternyata wajahnya tidak lagi menjadi jaminan perekat relasi yang telah tiga tahun ini dibina. Di dorong oleh cinta yang tak terperi kepada Ji Woo, Se Hee membuat keputusan edan: membedah wajahnya agar berbeda dan sejenak menghilang. Ji Woo kelimpungan ditinggal Se Hee yang menghilang tanpa ba-bi-bu, dan di dalam sebuah pencarian yang sia-sia, Ji Woo semakin menyadari bahwa cintanya memang semata pada Se Hee. Dan hidupnya pun dirasakan hampa.

Read More..

Menanti Sang Barbar




Judul: Invasions Barbares, Les
Sutradara: Denys Arcand
Skenario: Denys Arcand
Pemain: Remy Girard, Stephane Rousseau, Dorothee Berryman, Louise Portal, Yves Jacques

Film ini menurut saya bisa dibaca sebagai potret realistis dari fenomena sosial yang sedang berlangsung dewasa ini. Bagi saya, film ini mau mengatakan: manusia modern, sembari menampik sang barbar, sesungguhnya juga menanti sang barbar yang sama itu pula. Apa atau siapa yang dapat ditangkap sebagai sang barbar? Bisa apa atau siapa saja! Bisa kapitalisme, kebencian, kemarahan, ketakutan, kasih yang tak sampai, kata yang bungkam, drug, orang yang dibenci, anak yang murtad….. atau bahkan kematian. Yang jelas barbar di sini mau melukiskan sebuah situasi, kondisi yang tak ideal, yang asing, bahkan menakutkan (dan kita, manusia, sadari itu) tetapi tak terelakan (dan bahkan dalam kadar tertentu “ternikmati”) dalam alur hidup manusia. Saya kan mencoba menguraikannya dalam kalimat-kalimat dibawah.

Apa yang ingin diraih (bila itu tidak mungkin, dicicipi saja cukup) oleh manusia adalah kebahagiaan. Segala tindakan dan perilaku manusia selalu dalam konteks resistensi manusia mencari kebahagiaan. Di dalam film hal ini digambarkan melalui figur Sang Ayah yang di ujung waktunya ingin berkumpul dengan orang yang memiliki radiasi di dalam hidupnya. Sang putri yang dengan teknologi kontemporer berinteraksi, tanpa menyentuh, dengan sang Ayah karena ia sedang ada di tengah samudera. Tetapi kita lantas paham bahwa kebahagiaan di sini nyaris berhenti hanya pada pertemuan dan interaksi, tawa dan nostalgia. Sebentuk kebahagiaan yang instan (mungkin juga eutanasia diakhir film juga mau menggambarkan ini???). Titik. Dari sini kita disadarkan bahwa sesungguhnya hidup kita telah dilingkupi oleh ketakutan dan keragu-raguan. Ketakutan dan keragu-raguan akan hidup kita sendiri, akan kemampuan kita meraih kebahagiaan sejati. Selalu ada cara untuk menutup-nutupi itu, tapi pada akhirnya, mau tidak mau, terbuka juga.

Hal lain yang bisa dikatakan di sini adalah bagaimana manusia pada usianya yang telah matang sesungguhnya masih menyimpan “luka-luka dalam” dan immaturitas. Mereka yang berkumpul di rumah sakit adalah orang-orang tua yang serentak anak-anak (ketawa-ketiwi sekenanya, meledek sana-sini, dsb); juga anak-anak muda yang serentak begitu tuanya (seorang wanita muda yang mengajari bertahan hidup dengan obat, sang anak yang berusaha memahami sang ayah, dsb). Ada apa dengan manusia-manusia ini? Menurut saya, merekalah prototipe dari generasi-generasi luka sebagai produk dari sistem (dalam artian luas) yang luka, dan melahirkan generasi-generasi yang juga terluka. Dan bagus sekali digambarkan di sini: mereka semua dipertemukan dan berkumpul di rumah sakit: rumah orang-orang terluka, sebuah dunia yang menanti untuk disembuhkan atau mati.

Ini merupakan sebuah gambaran yang mengerikan dari dunia dimana kita sesungguhnya hidupi. Tapi apakah ini berarti film ini mau mendorong kita pada pesimisme? Nihilisme? Bagi saya tidak! Film ini justru mau menegaskan, lewat jalan yang lain (via negativa), apa yang yang mungkin luput dalam relasi kita, dalam penantian kita, atau bahkan dalam hidup kita: cinta. Kita sadar bahwa pada akhirnya kita membutuhkan ini. Ini juga sejenis barbar yang pada masa-masa lalu manusia kerap ditampik (direduksi, dipesimisi, dicurigai, dsb) karena begitu asing dan menakutkan (menakutkan karena di dalamnya ada tanggungjawab yang belum tentu setiap orang dengan rela hati menerimanya), tetapi serentak pula ini adalah hal yang paling dinanti-nantikan manusia di dalam hidupnya. Kebahagiaan dipahami dalam konteks cinta. Bila demikian maka yang terjadi bukanlah kebahagiaan yang instan tetapi yang sejati.

Kita memang hidup dalam situasi kontemporer yang bila kita menyadarinya membuat kita menggelengkan kepala dan mengelus-elus dada, tapi bukan berarti sudah tidak ada tempat buat cinta. Cinta inilah yang pada akhirnya membuat kita bisa tetap berdiri, meski pun sendirian, di dunia ini. Film ini mengajak kita untuk menanti sang barbar ini, bahkan mencari dan menyambutnya. Tetapi tentu tidak dengan tindakan yang sesungguhnya melawan cinta itu sendiri. Akhir kata: mari bersama menyambut sang barbar dengan senyum di ujung bibir, dengan “ya” di kepala, dan dengan maaf di hati.

Read More..

SATU POHON DI DUA MUSIM



Judul : Pergilah Ke Mana Hati Membawamu (Va Dove Ti Porta Il Cuore)
Pengarang : Susanna Tamaro (diterjemahkan oleh Antonius Sudiarja, SJ)
Penerbit & tahun : Gramedia Pustaka Utama, 2004
Tebal : 216 hlm


Sebuah novel. Sebuah surat. Sebuah diari. Sebuah kenangan dan pengakuan. Di dalamnya kita akan membaca bahwa manusia masih bisa berarti bila ia masih memiliki hati. Hati adalah satu-satunya benteng pertahanan kemanusiaan yang terakhir, yang tetap menggeliat pada setiap musim yang bergulir.

Olga, seorang nenek ringkih, kemarin baru menyadari bahwa tubuhnya mulai rapuh dan kasur kini menjadi sahabatnya. Ia sendirian, satu-satunya keluarga yang ada, yang dicintainya tidak ada di sampingnya. Ilaria, sang cucu, telah meninggalkannya di rumah dengan pintu yang terbanting, dan muka membelakangi. Olga sendirian, dan dalam kesendiriaannya itu ia membuat sebuah “pengakuan” – sebuah diari yang bertutut tentang kasih yang tak sampai, yang ditulis dengan hati. Semua itu ditujukan kepada Ilaria, sang cucu yang meninggalkannya dengan luka tertoreh di hati.

Membaca novel ini, kita tahu bahwa nuansa kejujuran dan rekonsiliasi begitu kental. Dua hal ini memang dirasakan sebagai hal yang perlu ketika manusia ingin menciptakan keintiman dalam hubungannya densan sesama. Jangan bilang bahwa keintiman adalah sesuatu yang hanya didambakan oleh wanita (yang dengan begitu halusnya tergambarkan dalam novel ini), semua manusia memerlukannya; bahkan bisa dikatakan bahwa sesunggunya pria lah yang sangat membutuhkannya, karena selama ini dunia sudah begitu keras dan kaku, kejam dan karam.
Susanna Tamaro, sang pengarang, adalah sosok pengarang yang begitu enggan akan dunia ketenaran dan kegaduhan. Menurutnya, ketenaran mengandung duri. Tak mengherankan bila ia juga menulis novel masterpiece –nya ini dalam suasana yang hening, yang hanya bisa dinikmati dalam keheningan. Dan keheningan adalah suasana yang bermukim di hati. Di masa kini rupanya banyak orang merindukan “hati”, mencoba ber-“hati” dan untungnya tidak sedikit yang memiliki “hati”. Tak heran bila pada tahun 1994 novel ini diganjar “Donna Citta di Roma”, sebentuk penghargaan prestisius di Italia, sebuah tanda yang menegaskan bahwa masih banyak orang yang memiliki dan merindukan hati.

Tapi bukan berarti gagasan daalam novel ini berhenti pada kesunyian hati macam itu. Ada kelindanan gagasan filosofis di dalamnya: tentang hidup, tentang cinta, tentang keluarga, rasa benci, dsb, juga tentang misteri. Kita segera mengerti bahwa kelindanan filsafat di dalamnya bukanlah sekedar “pengantar”, itu adalah sebuah gagasan yang mendalam. Dan dengan begitu cerdasnya, gagasan filosofis itu terbalut dalam bahasa metafor. Novel ini begitu banyak memuat metafor-metafor yang cerdas.

Apa yang menyebabkan novel ini menjadi suatu keharusan, suatu karya yang harus dibaca? Tidak ada… karena hati tidak pernah memaksa, dan setiap paksaan hanya akan menghasilkan kejemuan. Tapi bila kita ingin membacanya sampai lembar terakhir kita jadi tahu bahwa kita masih memiliki dan merindukan hati.

Read More..

Senin, 20 Oktober 2008

EXTRA MUNDUS NULLA SALUS: DI LUAR DUNIA TIDAK ADA KESELAMATAN


Judul : Satu Bumi, Banyak Agama: Dialog Multi-Agama dan Tanggung Jawab Global (One Earth, Many Religion)
Pengarang : Paul F. Knitter (diterjemahkan oleh Nico A. Likumahua)
Penerbit & tahun : BPK Gunung Mulia, 2003
Tebal : xvii + 282 hlm

Adalah fakta bahwa dunia yang satu ini dihuni oleh beraneka ragam agama. Yang beraneka ragam tersebut tidak perlu diseragamkan, yang perlu adalah bagaimana menemukan pijakan kokoh untuk duduk bersama di meja perjamuan yang telah kosong agar yang beraneka ragam itu tidak saling memakan. Knitter mengusulkan agar bumi dan penderitaan menjadi santapan pagi bersama.

“Rubah (the fox) tahu beragam hal, tetapi landak (the hedgehog) hanya tahu satu hal besar.” (Archilocuschus, penyair Yunani).

Para teolog pluralis yang berkecimpung dalam hubungan dan dialog antar agama, bisa digolongkan dalam 2 katagori besar (tanpa bermaksud mereduksi pernik keberagamaan yang ada; sekedar mempermudah): Teolog “Landak”, yaitu mereka yang meyakini bahwa betapa pun beragamnya agama tetapi mereka bisa dihubungkan oleh satu pandangan, kebenaran tunggal; teologi landak merupakan sebuah sistem yang koheren sehingga heterogenitas agama dilihat bukanlah sebagai sesuatu yang chaos, tetapi bisa sepenuhnya bisa dimengerti dalam kerangka universal: bahwa ada Allah yang sama di sana. Di sisi lain, ada yang bisa disebut Teolog “Rubah” yang kekeuh melihat pluralitas agama sebagai kenyataan yang plural, sehingga mereka tidak berpretensi untuk meringkus agama-agama yang ada ke dalam suatu sistem tunggal.
Para Teolog “Landak” tidak akan pernah bisa mempertemukan para pemeluk agama yang berbeda di meja perjamuan yang sama, karena tidak semua agama yang ada meyakini bahwa di jantung setiap agama ada Satu Sistem Tunggal yang biasa disebut sebagai Allah/Tuhan (Kung & Kuschel: Etik Global, 1999). Selain itu juga ada “kendala teknis” yang bisa sangat menggangu jalannya dialog: bahwa ketika saya yang Katolik menggunakan kata “Allah” dalam dialog, belum tentu mereka yang Islam memahami sebagai Allah yang sama di dalam pikiran mereka. Maka bisa terjadi dalam sebuah dialog pemaksaan kekuasaan dan bukannya keselamatan bersama. Para teolog “Rubah” (khususnya Knitter), dengan segala keberatan yang mengelilinginya, mencari pijakan yang lain untuk menciptakan sebuah, istilah dari Knitter sendiri, “dialog yang korelasional dan bertanggungjawab secara global.” Pijakan itu tidak pada Allah yang sama tetapi pada bumi yang satu dan hembusan nafas setiap manusia yang senantiasa membaui penderitaan.

Dengan data yang begitu lengkap dan uraian yang meyakinkan Knitter menyodorkan kepada para pembaca suatu realitas yang hanya orang bebal yang tidak mengakuinya: bahwa penderitaan yang dialami manusia sudah begitu bersifat global dan secara kuantitatif mengerikan. Dan bila kita ingin keluar dari situasi ini tentu menuntut tanggung jawab yang global juga. Ini adalah pijakan pertama dimana setiap pemeluk agama bisa duduk berdampingan bersama. Pijakan kedua adalah penderitaan yang dialami bumi, tempat tinggal manusia. Bumi telah menjadi tempat bermukim yang tidak nyaman lagi. Ini bukan karena kesalahan bumi itu sendiri, tetapi karena manusia yang tidak tahu diri: memeras bumi sehingga yang tersisa hanyalah debu, abu, dan hutang untuk anak cucu manusia.

Yang harus terjadi dalam sebuah dialog antar umat beragama adalah penegasan kembali komitmen mereka akan soteria – kesejahteraan manusia dan lingkungan. Ini adalah kerinduan dan pijakan bersama di mana setiap pemeluk agama yang beragam bisa duduk berdampingan. Mungkin Knitter benar ketika menegaskan bahwa, meminjam istilah Schillebeeckx, tidak perlu dan tidak banyak berguna bagi manusia untuk mencari keselamatan di langit sana atau di dalam setiap sistem keagamaan tertentu, karena keselamatan ada di dalam dunia dan keselamatan itu hadir tatkala para penghuninya dan alam lingkungannya juga merasakan keselamatan yang juga dirindukannya.

Buku ini menyisakan sesuatu yang penting bagi para pembacanya (dan tentunya bagi mereka yang berkutat dalam dunia teologi): sejauh mana kepeduliaan dan kepekaan kita terhadap carut marut kenyataan kehidupan beragama kita. Bila kita mengatakan peduli, mengambil dan membaca buku ini adalah satu langkah awal yang sangat baik; satu langkah awal yang bisa menuntun kita pada ribuan kilo kepedulian lain. Bila kita tidak peduli biarkan saja buku ini tertanam di dalam tanah, agar rayap yang membacanya.

Read More..

KETIKA AGAMA BERADA DI TEPI JURANG


Judul : Kala Agama Jadi Bencana (When Religion Becomes Evil)
Pengarang : Charles Kimball (diterjemahkan oleh Nurhadi; kata pengantar oleh Sindunata)
Penerbit & tahun : Penerbit Mizan, 2003
Tebal : 360 hlm


Sebuah buku yang membedah potensi destruktif dari agama. Tapi jangan kuatir, sebagai sebuah peziarahan, agama pun bisa dihadirkan dan dialami sebagai jalan keselamatan, cinta, dan perdamaian. Dalam peziarahannya menuju autentisitas tersebut agama memerlukan kompas, yaitu tradisi dalam doktrin yang hidup: iman, harapan, dan kasih. Ini memang sebuah langkah mundur, tetapi bila seorang ada di tepi jurang yang menganga, langkah mundur adalah sebuah langkah yang arif dan bijaksana.

Belakangan ini banyak tangan menunjukkan jarinya kepada agama: tersangka utama berbagai realitas hitam di dunia, realitas yang menggambarkan bahwa dunia memang seakan-akan wadah malapetaka. Ini bukan hal yang baru, tetapi nuansa agama sebagai sumber, penyebab, dan alasan bagi kehancuran dan kemalangan umat manusia semakin mengental. Dan anehnya, memang banyak orang mengamini bahwa agama memang bisa menjadi sumber-sumber malapetaka yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini tentu bukan gambaran menyeluruh dari agama. Agama yang autentik bahkan bisa menghantar pada sebuah gambaran kedamaian yang juga tak terbayangkan. Tetapi tentu kita tidak bisa mengabaikan kenyataan yang sedang berlangsung saat ini. Hanya dengan masuk ke dalam kebusukan dan kerusakan serta kekorupan agama, kita bisa menemukan apa yang mungkin bisa dihindari di masa depan, sembari melihat kompas yang sebetulnya sudah kita pegang di tangan. Charles Kimball dalam bukunya ini mencoba untuk melakukan hal ini.

Dalam usahanya untuk menelanjangi agama yang secara kongret dihayati oleh para pemeluknya, Kimball mendiagnosa adanya 5 (lima) potensi kerusakan dalam agama; lima potret yang harus segera diwaspadai karena bisa menjerumuskan agama ke dalam sebuah lakon antagonis-destruktif. Pertama, potret agama yang mengklaim kebenaran yang mutlak dan satu-satunya ada dalam genggamannya sendiri. Kedua, potret kepatuhan yang luar biasa terhadap pemimpin agama, tanpa disertai sikap kritis. Agama yang merindukan dan menantikan zaman yang ideal, dan berusaha sekuat tenaga merealisasikannya sekarang merupakan potret yang ketiga. Potret yang keempat menghadirkan agama yang berbisnis: tujuan harus tercapai apapun caranya. Agama yang militan, yang tidak segan-segannya berteriak dan melakukan perang suci, dapat digambarkan dalam bingkai potret yang kelima.

Ini memang sebuah literatur yang lebih mau menggambarkan potret hitam dari agama, jadi jangan terlalu kaget bila di dalamnya kita akan menemukan betapa banyaknya gambaran real tentang bagaimana agama bisa menstir orang atau kelompok tertentu melakukan tindakan yang membuat kita menahan nafas dan mengelus dada. Tetapi Kimball tidak berhenti di situ. Ia juga mengarahkan kameranya pada sesuatu lansekap dari agama yang memungkinkan kita bisa bernafas dengan lega dan tenang: bahwa agama juga memiliki dan pernah mempraktekan beberapa tradisi yang saat ini bisa dihidupkan dan diintensifkan: iman, harapan, dan kasih (cinta).

Saat ini Agama memang bisa ditinggalkan oleh setiap orang, bahkan mungkin salah satu dari kita telah melakukannya (meski pun dalam tataran konseptual), tapi sebelum betul-betul meninggalkan agama baik bila kita membawa juga pikiran ini: apakah kita tidak membuang air mandi berikut dengan bayinya? Air mandi itu adalah kemungkinan kebusukan-kebusukan, ketidaktoleransian, kekorupan dari agama, dan si bayi adalah idealisme, tradisi, dan doktrin agama. Agama adalah sebuah peziarahan yang saat ini telah mengangkat dan menemani manusia dengan kesetiaannya, sebuah peziarahan yang siap untuk berkemas dan berjalan kembali dengan kompas yang ada di tangan.

Bagi mereka yang tertarik dalam hal studi keagamaan dan perbandingan antar agama, buku ini menjadi suatu pengantar untuk bisa masuk menelusuri interioritas agama dan manusia. Bagi mereka yang hendak membacanya: selamat membaca, selamat menatap ke depan: lansekap terbentang di depan dan ada harapan di sana.

Read More..

Minggu, 19 Oktober 2008

Negative Theology and Modern French Philosophy


Judul : Negative Theology and Modern French Philosophy
Genre : Teologi Filosofis (Philosophical Theology)
Penerbit : Routledge, 2004
Pengarang : Arthur Bradley
Halaman : 224 hal


“Theological Turn”

Sesungguhnya dari judulnya saja, para pembaca sudah bisa mengira-ngira apa yang ada di dalam buku ini, yaitu pengeksplorasian Teologi Negatif (selanjutnya disingkat TN) dalam denyut-denyut filsafat Prancis modern. Namun, ini bukan sembarang eksplorasi. Ini adalah sebuah usaha pencarian berteologi di jaman atheologi, dan yang membuat buku ini sangat layak diperhitungkan adalah gada yang digunakan untuk meratakan persoalan yang ada: dekonstruksi a la Derridean! Ya, betul Derrida filosof dekonstruktif itu! Dalam karya-karyanya yang terakhir Derrida ternyata memberikan perhatian pada tema-tema yang berbau-bau teologi: “faith”, “religion”, “prayers of tears”.

Sebenarnya, teologi di Prancis (bahkan mungkin dunia) sudah kembali mulai dihidupkan, maka tema-tema religius menjadi suatu alternatif yang mengagumkan dan tidak memalukan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dan problematika yang menghantui dari dekonstruksi sampai fenomenologi, dari genealogi sampai psikoanalisa. Betul, bahwa saat ini telah terjadi “teological turn”. Namun, dari berbagai isu teologis yang ada, manifestasi isu yang paling jelas terlihat, penuh dengan enigmatika, dan sangat mengejutkan adalah meriahnya ketertarikan para pemikir dunia dengan Teologi Negatif, atau nama lainya Teologi Apopatik, atau sederhananya, jalan negatif (via negativa). Dan Derrida adalah satu-satunya pemikir yang secara gamblang berteriak: “Sauf le nom!” (Saving the Name) bagi teologi ini. Tentu, tidak ada yang istemewa dalam teriakan ini kalau saja bukan Derrida yang berteriak, karena di tangan dan pikiran Derrida proyek utamanya berkaitan dengan tema ini adalah an attempt to repeat it differently.
Maka TN tidak lagi menjadi sesuatu yang sebagaimana biasa telah kita ketahui bersama.
Untuk memperkokoh pemikiran mengenai TN yang ditawarkan secara baru, sang pengarang buku menggunakan juga metode komparatif yang cukup menarik. Menarik, bukan karena tokoh-tokoh yang digunakan sebagai komparasi adalah tokoh-tokoh yang berkelas (Michael de Certeau, Jean-Luc Marion, Michael Foucault dan Julia Kristeva), namun terlebih-lebih bagaimana Derrida membentangkan kemungkinan TN ini dalam filosof-filosof di atas yang jelas-jelas bersikap berseberangan dengan TN nya Derrida, bahkan dua tokoh terakhir di atas (Foucault dan Kristeva) jelas-jelas berada di luar ranah teologi. Komparasi ini hendak meneguhkan sebuah ide bahwa TN merupakan sebuah alternatif jaminan berteologi dijaman kiwari.


Semesta Derrida

Apa yang menarik dari TN yang dibaca secara berbeda oleh Derrida?
TN adalah sebuah gelar untuk tradisi teologis yang menekankan bahwa yang ilahi tidak akap pernah bisa dimengerti dalam kerangka pemikiran manusiawi karena yang ilahi itu sungguh-sungguh total transenden. Oleh karena itu, dalam rumusannya TN tidak pernah menggunakan bahasa-bahasa positif ataupun antropomorpik, namun melalui bahasa negatif, bahasa-bahasa paradok dan kontradiktif, yang jelas menggunakan bahasa-bahasa yang menekankan ketidakadekwatan bahasa manusia untuk merumuskan transendensi Sang Ilahi. Atau sederhananya, TN adalah teologi yang mengatakan apa yang bukan Tuhan itu ketimbang sebalikya. Singkatnya, TN mencoba untuk menekankan keberbedaan radikal Tuhan dari segala pencitraan manusia akan Tuhan dan dengan demikian mengaffirmasi Tuhan sebagai sosok yang absolut tak bisa diketahui, dikomprehensikan, dan tak terreduksi oleh segala usaha pemikiran manusia.

Derrida tidak melihat dengan kacamata yang biasa seperti di atas tersebut sehingga potensi dari TN bisa dioptimalkan. Jika kita menggunakan rumusan dan arti di atas, sesungguhnya kita bisa melihat bahwa apa yang mau disasar oleh TN persis sama dengan Teologi Positif, hanya dengan jalan yang berbeda. Bahkan, sebagaimana disinyalir oleh Derrida, kedua bentuk teologi ini ada dalam kerangka berfikir onto-teologi yang menjadikan pemikiran mengenai Tuhan terkontaminasi dalam jerat metafisika, jerat Being. Ini pada akhirnya, tetap memenjarakan Tuhan dalam konsep yang terbatas. Oleh karena itu, sebetulnya dua cara berfikir ini perlu distigmatakan, didekonstruksi. Namun, lantas mengapa Derrida hendak ingin mempertahankan TN, jika jelas-jelas terbuktikan bahwa TN adalah wajah lain dari onto-teologi? Jawabannya sederhana: karena sesungguhnya jika kita bisa melihat TN secara berbeda maka di dalamnya kita akan menemukan nebula-nebula yang tersembunyi, beraneka-ragam, berlimpah-ruah yang merupakan potensi berteologi yang sangat dahsyat. Jika kita bisa membacanya secara berbeda, TN bukanlah obyek dekonstruksi melainkan dekonstruksi itu sendiri!

Dalam pembacaan yang berbeda terhadap TN Derrida menemukan bahwa TN adalah sebentuk perjalanan menuju sesuatu yang berbeda belaka (“passage to the totally other”). Perjalanan ini menghantarkan Derrida pada konsep mengenai “hospitality”, bukan sekedar hospitalitas biasa, namun hospitalitas yang radikal: yang menyambut perbedaan (yang total), kontradiksi (yang total), dan ambiguitas (yang total) dengan ramah di rumah pikiran kita.

Jejak-jejak harapan

Apa yang bisa dibentangkan sebagai kemungkinan terbaik dari pemikiran Derrida dalam buku ini?

Pertama
, kristianitas diajak untuk mampu menampilkan dirinya sebagai sebuah agama yang terbuka terhadap kemungkinan tak bersyarat melihat other religions dan the other of religion dalam kerangka suasana yang toleran, diwarnai hospitalitas, serta semangat ekuminikal. Sangat jelas, dialog antar agama bisa diantar menuju sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih tulus.

Kedua,
TN yang dibaca secara berbeda oleh Derrida menuntut kita untuk membayangkan sebuah relasi yang non-monolitik, kerangka yang plural dan fraktal antara filsafat dan teologi, sehingga masing-masing disiplin ilmu di atas semakin mampu memurnikan identitas dirinya masing-masing sehingga menghindari kesewenang-wenangan menyingkirkan satu sama lain. Dengan demikian, pada akhirnya, setiap saat dalam sejarah relasi antara filsafat dan teologi bisa di rumuskan ulang sebagai tidak lain dari pada ritme dan ekonomi yang tak terhindarkan dari ketidakstabilan yang tiada henti di dalam masing-masing ilmu itu sendiri.

Ketiga,
TN a la Derrida mengajak kita untuk mampu menjungkirbalikan fatalitas dalam segala konsep yang kita miliki dan mentransformasikan fatalitas itu menjadi kesempatan untuk melahirkan etika-politik yang jauh lebih baik, jauh lebih bertanggungjawab terhadap sesama, secara konkret TN bisa dijadikan dasar untuk memberikan ruang terhadap persoalan imigrasi atau pun pencari suaka, dll.

Read More..

Apakah “God feel at home” di Prancis?


Judul : God In France. Eight Contemporary French Thingkers on God
Genre : Teologi Filosofis (Philosophical Theology)
Penerbit : Peeters– Leuven, 2005
Pengarang : Peter Jongker & Ruud Welten (eds.)
Halaman : 227 hal



Apakah “God feel at home” di Prancis?

Filsafat telah memetakan sebuah putaran penting dalam konstelasi wacananya, yaitu hermenetika. Konsekwensinya sangat jelas, yaitu Filsafat tidak akan pernah lagi secara gegabah mendaku mampu menghadirkan dirinya sebagai philosophia parennis (filsafat kekal) yang mampu mentransendensikan sekat-sekat yang mengungkungi ruang dan waktu, karena universalitas pemikirannya serta keabsolutan objeknya, Tuhan. Saat ini filsafat mengamini ini: bahwa saat berfilsafat adalah saat untuk menyadari kembali keterbatasannya (bahasa, situasi, konteks, dst). Menjadi sangat menarik saat dengan kesadaran cerdas ini filsafat mulai secara perlahan merambah sembari meraba persoalan mengenai Tuhan. Buku ini adalah kumpulan hasil perabaan para filosof-filosof perancis mengenai tema yang sama: Tuhan.

Apa yang sesungguhnya menjadikan buku ini menarik dan menantang? Gaya pemikiran yang heuristic lah yang menjadikan buku ini menarik dan menantang. Memang gaya pemikiran heuristic bukanlah hal yang anyar di dalam filsafat: tunjuklah Descartes dan Leibniz yang menggunakan matematika sebagai sebuah paradigma untuk mengais-ais pengetahuan yang sejati, atau ranah ekonomi yang ditekankan oleh Marx untuk menggapai pemamahaman filosofis dalam membentuk masyarakat modern, lihatlah juga Heidegger yang menggunakan puisi-puisi Hölderin untuk menjelajahi jejak-jejak lamat sang Being. Namun, yang jauh lebih membuat buku ini menarik dan menantang adalah bagaimana di jaman yang dibaluri sekularisme dan atheisme (dengan segala variasinya) sekarang ini, ide-ide religius digunakan sebagai lampu penerang berfilsafat. Ide-ide religius itu pun digunakan secara heuristic sehingga para pemikir yang dihadirkan di dalam buku ini menawarkan kesegaran baru bahwa baik isi dari ide-ide religus yang mereka lontarkan dan juga jalan yang mereka gunakan untuk melontarkan ide-ide ini mampu menaburkan sepercik pijar yang berbobot dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penting filsafat dan teologi.

Karenanya, di dalam buku ini paca pembaca akan menemukan, sambil terkagum-kagum barangkali, bahwa para filosof-filosof yang ditampilkan di dalam buku ini hanya dengan mengandalkan kodrat akalbudi manusia semata (tanpa mengundang revelasi supernatural atau premis-premis teologi yang ada), mampu memberikan jawaban yang patut diperhitungkan berkaitan dengan persoalan yang tidak sepele, misalnya, relasi antara kontingensi dunia dan Tuhan sebagai dasar absolut, rasionalitas kemahakuasaan Allah, prinsip-prinsip providensial (penyelenggaraan ilahi) di dalam dunia, kebebasan manusia dalam kaitannya dengan keabsolutan Tuhan, dan lain sebagainya.
Filosof-filosof yang diketengahkan untuk menjawab persoalan-persoalan di atas adalah filosof-filosof yang berasal dari Prancis. Para filosof Prancis ini adalah arsitek-arsitek yang merasa bertanggungjawab untuk membangun “rumah tanpa dinding”; musikus-musikus yang “berdendang tanpa nada dan notasi” bagi Tuhan, agar God feel at home di Prancis.




Sistematika: benak-benak filosofis menjejaki Tuhan


Berikut ini kurang-lebih isi dari buku bab per bab. Pada bab awal, diketengahkan pemikiran Heidegger berkaitan dengan fenomenologi. Aneh, karena tampak seperti kesasar, karena bukankah Heidegger adalah orang Jerman dan bukan Prancis? Tapi menjadikan Heidegger sebagai bab pembuka adalah sesuatu yang sangat tepat, karena semua pemikir Prancis di dalam buku ini dipengaruhi oleh pemikiran Heidegger (meskipun pada beberapa pemikir Prancis di dalamnya pemikiran Heidegger sendiri, misalnya berkaitan dengan Fenomenologi, dikritisi dan bahkan dibetot-betot sampai ke titik yang radikal). Yang terutama disoroti dari pemikiran Heiddeger adalah kritiknya atas onto-theologi dari sudut fenomenologi. Dari kritik ini, Hedegger memberikan peringan yang tegas dan jelas untuk teologi: bahwa saat sekarang ini adalah jaman “the loss of gods”, dimana saat kita berteologi selalu berarti terlalu terlambat (too late) namun serentak juga terlalu buru-buru (too soon). Singkatnya tidak ada harapan bagi teologi di masa kini (God in France: Heideegger Legacy, oleh Peter Jongkers). Benarkah demikian? Tampaknya tidak, paling tidak bagi para filosof Prancis yang disajikan di dalam buku ini. Meskipun mereka menggunakan kritik yang sama terhadap onto-theologi, namun mereka berhasil membetot fenomenologi ke sudut-sudutnya yang paling radikal. Di titik radikal itulah, secercah harapan muncul bagi teologi. Yah, teologi memang tidak pernah dan seharusnya jangan sampai berhenti di tengah jalan. Teologi adalah ilmu yang radikal.

Bab selanjutnya ada Ricoeur (Paul Ricoeur: Thingking the Bible, oleh Theo de Brur) yang mencoba untuk mengharuskan filsafat untuk menyingkapkan struktur yang universal dan struktural yang mengedap-edap tersembunyi dalam pluralitas mitos-mitos dan simbol-simbol individual, sebagaimana yang tersingkap dalam semua agama, namun di sisi lain filsafat harus sadar diri: ia berada dalam level imanen karenanya jangan gegabah untuk mengatakan sesuatu pun yang berada dalam garis transendensi vertikal. Dalam artikel ini, argumen Ricoeur diakhiri dengan usulan untuk sebuah rehabilitasi bahasa non-spekulatif, sebuah cara berfikir tanpa memiliki pretensi terhadap metafisika tradisional yang gemar melakukan totalisasi.
Bukan hanya Ricoeur yang mengkritik onto-theology yang sudah dimulai oleh Heidegger, Girard pun (melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda Every Man Has a God or an Idol: Renē Girard’s View of Christianity and Religion, oleh Guidio Vanheeswijck). Menurut Girard onto-theologi adalah sebentuk kesewenang-wenangan filosofis karena sebetulnya onto-theologi adalah sebuah usaha pencarian identitas yang mengaburkan perbedaan antara Being dan beings, dan akhirnya mereduksi Tuhan menjadi sebuah being, meskipun tertinggi. Akibatnya, Tuhan tidak lagi menetap sebagai yang transenden.
Berkaitan dengan hal yang sama, tampaknya Levinas (This Extraodrinary Word: Emmanuel Levinas on God, oleh Johan Goud) tak tanggung-tanggung karena proyek pemikirannya adalah hendak menciptakan sebuah pemikiran mengenai Tuhan yang betul-betul tidak terkontaminasi oleh virus metafisika atau onto-theology, karenanya pun jalur pemikirannya menempuh jalur “atheistik”: etik. Dengan mengacu pada Keluaran 33, Levinas menandaskan Tuhan sebagai sebuah “jejak”, sebagai sesuatu yang telah “lewat”. Melalui Levinas, teologi diingatkan bahwa Tuhan tetaplah sebuah misteri.
Tokoh lain yang mencoba untuk meluluhlantahkan metafisika (khususnya onto-theology) adalah Derrida (God as War: Derrida on Divine Violence, oleh Rico Sneller). Segala usaha Derrida adalah dekonstruksi terhadap representasi Tuhan sebagai supreme being. Dalam usahanya ini, Derrida meradikalisasi situasi problematik onto-theology dengan meletakannya dalam konteks kesemena-menaan logosentrisme yang kadung mendominasi pemikiran barat. Logosentrisme adalah cara berfikir dimana kebenaran memiliki kodrat spiritual, lantas jadinya, secara prinsipil, mampu untuk ditatap oleh mata pikiran (yang secara prinsipil juga berkodrat spiritual). Dalam logosentrisme, Tuhan berfungsi sebagai referensi transendental yang menjamin makna yang stabil bagi segala ucapan dan pikiran mengenai Tuhan. Bagi Derrida, tuhannya onto-theology tampak sebagai syarat kemungkinan untuk memikirkan realita dalam kerangka kehadiran (presence), kemungkinan untuk dihadirkan kembali (representability), dan objektivikasi. Oleh karena itu hanya ada satu kata untuk onto-theology: dekonstruksi yang tiada kenal lelah. Karenanya teologi haruslah memikirkan “how (not) to speak about God?
Pertanyaan menarik dari Derrida ini, secara tidak langsung tentunya, dijawab oleh tokoh lain: Lyotard (Phrasing God: Lyotard’s Hidden Philosophy of Religion, oleh Chris Doude van Troostwijk). Lyotard menawarkan tiga strategi berbeda bagi kita untuk serentak berbicara mengenai Tuhan namun juga tetap diam mengenai Tuhan: [1] berbicara melalui perantaraan (speaking indirectly), [2] berbicara dengan lidah mendua/bercabang (forked tongue), [3] bicara tanpa menggerakan bibir (ventriloquism). Dasar dari stategi yang ditawarkan Lyotard ini adalah bahwa Tuhan tidak bisa dijadikan sebuah obyek dari pemikiran metafisika. Sebaliknya, sang absolut hanya dapat dihadirkan dalam wacana manusia dengan cara yang ketat menekan (represeed way), sehingga wacana tersebut mampu untuk terdestabilisasi serta bertransformasi.

Kritik Henry (God is Life: On Michael Henry’s Arch-Christianity, oleh Ruud Welten) atas onto-teology mengambil jalur yang berbeda sama sekali. Bagi Henry ada relasi struktural yang erat antara fenomenologi radikal dengan kristianitas, karena kedua-duanya berawal dari sebuah pemeristiwaan, pemanifestasian, pewahyuan. Pewahyuan tidak pernah berarti sebagaimana yang selama ini fenomenologi Hussrel tunjukan: pewahyuan akan “sesuatu”, tapi pewahyuan mewahyukan wahyu itu sendiri; “Aku adalah Aku” tegas Tuhan kepada Musa. Tuhan adalah hidup itu sendiri, hidup yang tidak bisa direduksi menjadi hidup yang lain. Maksudnya jelas, Tuhan tidak bisa dijejalkan dalam kerangka Being.

Marion (The Paradox of God’s Appearance: On Jean-Luc Marion, oleh Ruud Welten) menggunakan konsep idol dan ikon untuk mengklarifikasi dan menyeimbangkan isu-isu yang dibahas di atas. Idol mengacu pada pengalaman manusia akan yang kudus, dimana yang kudus direpresentasikan sebagaimana terlihat hanya dari sudut pandang manusia. Sudut pandang ini menjadi baku dan kaku, saat idol menjadi titik berhenti dari segala penjelajahan pandangan manusia dan membakukan dirinya sendiri. Konsep ini mengacu pada kebiasaan berfikir mengenai Tuhan dalam kerangka ‘konstruksi’ dan ‘konseptualisasi’, kebiasaan kurang ajar yang biasa dilakukan onto-teology. Sebagai sebuah konsep, Tuhan tidak lagi menjadi sesuatu yang tak terbatas dan tak terpahami namun menjadi patung yang beku dan kaku dalam batas-batas kapasitas kemampuan manusia untuk merepresentasikan.

Tokoh terakhir yang dibahas adalah Lacoste (Phenomenology, Liturgy, and Metaphysics: The Thought of Jean-Yves Lacoste, oleh Joeri Schrijvers). Lacoste memberikan sebuah penjelasan atas konsekwensi kritik-kritik terhadap onto-teologi (terutama kritik dari Heiddeger) bahwa saat ini teologi memiliki kewajiban ganda: di satu sisi teologi harus berusaha untuk membebaskan diri sebebas-bebasnya dari perselingkuhan dengan metafisika, dan di sisi lain, saat telah memisahkan takdirnya dari segala jenis pemikiran metafisika, mencoba untuk menerima kebenaran Being (the truth of Being).



Beberapa Catatan yang tersisa


Apa yang bisa dipetik dari buku ini, selain tentu saja eksplorasi-informatika yang sungguh-sungguh bisa dipertanggungjawabkan dari buku ini? Namun, tentu saja, sebagai hidangan pembuka untuk memasuki peta pemikiran para tokoh-tokoh yang disajikan sendiri, buku ini mampu memberikan hidangan yang sungguh menggoda untuk langsung masuk ke dalam hidangan utama, yaitu buku-buku yang langsung ditulis oleh para filosof yang ada. Selain ini, peninjau juga menemukan beberapa hal yang mungkin bisa meningkatkan dan mengoptimalkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari.

Pertama
, penyeberangan kiblat ilmu ke masing-masing kubu yang berbeda ternyata bisa saling memperkaya ilmu itu sendiri, dalam hal ini tentu saja Teologi dan Filsafat. Bisa jadi penyeberangan ini dianggap sebentuk “pengkhianatan” kaidah dan batas ilmu yang sudah ada, namun disisi lain, kita juga bisa melihat betapa pertanyaan-pertanyaan mendasar jika dijawab dari berbagai sudut mampu memberikan kemungkinan sebuah jawaban yang lebih kaya dan mengagumkan. Para tokoh di dalam buku ini, memberikan bukti yang tidak main-main bahwa ada kemungkinan untuk memberi tempat tinggal yang nyaman untuk persoalan mengenai Tuhan dalam dunia yang sekular dan dihantui atheisme.

Kedua
, metode hereustica mengajak kita untuk berfikir lebih jauh bahwa batasan-batasan ilmu yang kita miliki, yang sudah kita pelajari ternyata bisa dibetot-betot sampai ke titik terdalam. Saya pikir inilah salah satu ciri penting dari sebuah ilmu: sebuah kemungkinan untuk keluar dari darinya sendiri dan merasuki wilayah-wilayah yang mungkin selama dianggap gelap, tak memiliki relasi sama sekali, tak berhubungan sama sekali. Di titik ini, ilmu mendapat pemenuhannya: sebagai lautan yang tak bertepi, yang senantiasa menantang untuk dijelajahi.

Ketiga
, khusus untuk dialog antar agama. Selama ini, wilayah dialog model ini dianggap hanya dipermukaan saja, tidak mendalam karena tidak bersentuhan dengan doktrin-doktrin terdalam dan terkeras dari masing-masing agama. Di wilayah doktriner, dialog sering berhenti ditengah jalan. Namun lihatlah, Michael Henry untuk menyebut salah satunya saja, betapa dia bisa mampu masuk ke dalam lapisan terdalam doktrin kristiani dan membuka kesempatan untuk berdialog secara doktriner dengan agama-agama lain.

Read More..

Free Blogspot Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger