Minggu, 23 November 2008

Casa de Areia



Judul : Casa de Aeria [The House of Sand]
Sutradara : Andrucha Waddington
Skenario : Elena Soarez
Pemain : Fernanda Montenegro, Fernanda Torres, Ruy Guerra, Seu Jorge, Stênio Garcia, Luiz Melodia

Film ini adalah sebuah meditasi yang lembut dan lambat tentang tempat manusia di dalam waktu semesta ini, di ujungnya kita digiring pada sekilas gambar yang sinis mengenai hasrat dan sejarah manusia yang tidak mesti selalu berhubungan dengan mesra. Namun, tak perlu berkecil hati karena masih ada celah kecil untuk mensiasatinya, tanpa harus mencipta cela besar.

Tahun 1910, diiringi musik yang mendesir, dari sudut layar mulai bermunculan serombongan orang yang tampak berjalan dengan tak mudah. Mereka berjalan di atas hamparan pasir tak berujung, dengan wajah yang letih dan berputus asa. Pemimpin rombongan itu adalah Vasco (Ruy Guerra, “Fabel of the Beautiful Pigeon Fancier”), suami dari Áurea (Fernanda Torres, “Four Day in September”) yang sedang mengandung, menantu dari Donna Maria (Fernanda Montenegro, “The Other Side of the Street”); serta beberapa pelayan mereka. Vasco menggiring keluarga serta para pelayannya ke Maranhão, sebuah daerah yang hanya berpenghuni hamparan bukit pasir di Selatan Brazil, dengan membawa hasrat yang berbahaya: menjadi tuan yang kekal di tanah yang tak bertuan dan tak diingini oleh siapa pun. Tak lama berselang kita segera tahu, bahwa film ini bukan diperuntukan untuk kisah Vasco dengan hasratnya, karena ia meninggal tertimpa rumah yang sedang dibangunnya sendiri. Dan semua pelayannya pun pergi, tak bersisa..
Tinggallah Áurea & Donna Maria (anak dan ibu, juga dalam kehidupan nyata) yang mencoba bergulat dengan situasi yang ada dan sangat ingin hengkang dari tempat laknat itu. Namun, hasrat mereka tergerus fakta bahwa: mereka tidak mampu melawan waktu yang bergerak di atas pasir. Yah, lantas film bergulir tentang Ibu dan anak di dalam rumah yang mereka dirikan di atas pasir. Selama tiga generasi mereka tinggal di tempat itu, tanpa pernah bermimpi untuk hidup di dunia yang lain. Áurea pun sempat membentuk keluarga baru dengan Massu (Seu Jorge, “City of God”, “the Life Aquatic”), bekas seorang budak pelarian yang bekerja sebagai nelayan. Pada sebuah kesempatan, generasi mereka yang terakhir (yang diberi nama Maria), akhirnya punya peluang untuk berjuang di dunia yang tanahnya tak bergerak.
Andrucha Waddington (“Me You Them”, “Gêmeas”), mengkhiri film yang berdurasi 114 menit ini dengan sebuah senyum misterius atas pertanyaan yang merupakan modifikasi dari teori relativitas Einstein, ketika manusia sudah mulai menemukan jalan ke bulan: kalau ada sepasang anak kembar, yang satu pergi ke bulan, dan satunya lagi menetap di bumi; apakah yang terjadi saat dia yang pergi ke bulan datang kembali ke bumi: “apakah saat ia kembali, ia berusia lebih muda dari saudaranya?”. Yah, Áurea & Donna Maria sudah menjawab pertanyaan itu jauh-jauh hari, bahkan sebelum manusia menemukan jalan ke bulan, karena saat manusia pergi ke bulan, manusia tidak menemukan apa pun, selain hamparan pasir!




Kita menyadari bahwa waktu bergerak, relatif, dan segala hasrat manusia yang didasari secara mutlak di atasnya bisa bernasib sebagaimana sebuah rumah yang dibangun di atas pasir. Selain kemungkinan rubuh, tapi ada juga kemungkinan lain: tertimbun. Siapa pun yang bersikukuh berdiam di dalamnya, akan rubuh atau terkubur sendiri di dalam hasrat mutlaknya. Lantas, dimanakah letak kemungkinan ultim manusia, jika waktu hanya memberi jeda sejenak saja? Masih ada sesuatu yang bisa dipegang dan dijaga manusia saat dunia disadari sebagai sandaran yang rapuh?
Adalah Schopenhaur (1788 – 1860), yang memberikan alternatif jawaban pesimistis dan irasional atas pertanyaan di atas, namun sudah dirasa cukup untuk memahami dunia dan manusia. Menurut Schopenhaur, jawaban itu haruslah di temukan di dalam sesuatu yang tidak arif, tanpa rasionalitas, yaitu di dalam Wille (kehendak), sebentuk gairah, daya dan dorongan yang buta. Dengan wille inilah manusia bisa membentuk tubuh dan hidupnya dan berdamai dengan dunia. Irasionalitas ini makin menjadi rasional saat Schoupenhaur meyakinkan bahwa dengan wille nya, manusia dapat secara sadar menciptakan vorstellung (bayang-bayang) dunia di dalam dirinya. Sehingga, di dalam diri manusia, dunia menjadi sebentuk kesadaran yang tergenggam, tertaklukan. Benarkah demikian? Telah selesaikah semua?
Ternyata tidak. Bahkan saat manusia melakukan proses sublimasi kesadaran itu dengan tarak (askese) yang keras. Karena persis seperti itulah yang diharapkan dan dilakukan Vasco, yang pada akhirnya menjadi sesosok yang paling malang di dalam film ini: ia mati terlebih dahulu, bahkan sesungguhnya sebelum ia menginjakkan diri secara utuh di hamparan impian berpasirnya itu. Lantas, apa yang ditawarkan film ini?
Pada suatu ketika, Massu membantu Áurea menanam sebatang pohon kelapa di dalam pasir, di depan rumahnya. Menanam sebatang pohon kelapa di hamparan bukit pasir adalah suatu yang nyaris tiada berguna selain menandakan bahwa ada kehidupan yang nyata di bawahnya. Pohon kelapa itu punya fungsi lain: mengajak Áurea berfikir bahwa berjuang untuk sebuah gagasan tanpa terlebih dahulu mengenal diri sendiri adalah hal paling berbahaya yang bisa dilakukan manusia. Seperti pohon kelapa di bukit berpasir itu: menyebarkan akar terlebih dahulu di dalam tanah, baru bertumbuh menjulang. Dan, saat kita berada di persimpangan-persimpangan jalan yang membingungkan dan memperkeruh, situasi-situasi yang menumbangkan gagasan-gagasan terhebat kita, kita tahu masih ada sesuatu yang tertanan dengan anggunnya: cinta di dalam hati.
Betul, film ini mau menyajikan hati sebagai jalan keluar dari problematika waktu manusia yang bisu di atas pasir. Itulah alasan mengapa, di pengujung film ini, Maria (anak Áurea) berani menapakkan kaki kembali di bukit berpasir ini untuk menjumpai Áurea tua. Karena di situ, ada sebuah hati yang mengajarkan kepadanya untuk tetap memiliki hati saat dunia tidak memberikan alasan yang baik untuk hidup, saat hasrat-hasrat tergelap manusia menyeruak ke permukaan. Mungkin dunia memang tidak akan pernah berubah, namun, paling tidak kita bisa menyadari bahwa ada dua sosok tubuh yang berusaha memberi warna lain di dunia ini. Warna yang lahir dari dalam hati Áurea dan Maria. Kedua-duanya adalah perempuan.

Read More..

Kamis, 23 Oktober 2008

WAJAH DALAM WAKTU; WAKTU YANG MEWAJAH



Judul : TIME
Sutradara : Ki-Duk Kim
Skenario : Ki-Duk Kim
Pemain : Hyeon-A Seong, Jung-Woo Ha, Ji-Yeon Park

Ki-Duk adalah rekonstruktor, seorang peramu mozaik yang telah diluluhlantahkan oleh eksterioritas. Setiap scene dalam film-filmnya bukan sekadar sebuah huruf-huruf yang membentuk kata, namun garis-garis yang berakhir pada penciptaan semesta interioritas manusia yang seringkali tak terkatakan. Film yang keduabelasnya ini, juga berbicara tentang interioritas manusia. Namun interioritas yang paling eksterior; sebuah ineksterioritas manusia: wajah. Dalam film ini, ineksterioritas manusia menemukan maknanya yang terdalam: ia berpilinan dengan sesuatu yang paling tidak bisa digenggam manusia: waktu.




Se Hee (Hyeon-A Seong, “Cello”, “The Costumers is Always Right”) berteriak di depan wajah Ji Woo (Jung-Woo Ha, “The Unforgiven”, "Lover in Prague”), kekasihnya, di dalam sebuah cafe. Ia marah bukan karena sang kekasih hatinya itu disinyalir senantiasa menggerakkan mata menuju wanita-wanita lain yang berkeliaran di sekeliling mereka. Se Hee marah karena Ji Woo tidak menjadikan wajahnya pusat alam semesta. Sebetulnya kemarahan jenis ini adalah kemarahan yang biasa sekali karena setiap kekasih pasti menginginkan dirinya sebagai pusat belaka dari pasangannya; yang menjadikan kemarahan Se Hee tidak biasa adalah saat ia menyadari bahwa ternyata wajahnya tidak lagi menjadi jaminan perekat relasi yang telah tiga tahun ini dibina. Di dorong oleh cinta yang tak terperi kepada Ji Woo, Se Hee membuat keputusan edan: membedah wajahnya agar berbeda dan sejenak menghilang. Ji Woo kelimpungan ditinggal Se Hee yang menghilang tanpa ba-bi-bu, dan di dalam sebuah pencarian yang sia-sia, Ji Woo semakin menyadari bahwa cintanya memang semata pada Se Hee. Dan hidupnya pun dirasakan hampa.

Read More..

Menanti Sang Barbar




Judul: Invasions Barbares, Les
Sutradara: Denys Arcand
Skenario: Denys Arcand
Pemain: Remy Girard, Stephane Rousseau, Dorothee Berryman, Louise Portal, Yves Jacques

Film ini menurut saya bisa dibaca sebagai potret realistis dari fenomena sosial yang sedang berlangsung dewasa ini. Bagi saya, film ini mau mengatakan: manusia modern, sembari menampik sang barbar, sesungguhnya juga menanti sang barbar yang sama itu pula. Apa atau siapa yang dapat ditangkap sebagai sang barbar? Bisa apa atau siapa saja! Bisa kapitalisme, kebencian, kemarahan, ketakutan, kasih yang tak sampai, kata yang bungkam, drug, orang yang dibenci, anak yang murtad….. atau bahkan kematian. Yang jelas barbar di sini mau melukiskan sebuah situasi, kondisi yang tak ideal, yang asing, bahkan menakutkan (dan kita, manusia, sadari itu) tetapi tak terelakan (dan bahkan dalam kadar tertentu “ternikmati”) dalam alur hidup manusia. Saya kan mencoba menguraikannya dalam kalimat-kalimat dibawah.

Apa yang ingin diraih (bila itu tidak mungkin, dicicipi saja cukup) oleh manusia adalah kebahagiaan. Segala tindakan dan perilaku manusia selalu dalam konteks resistensi manusia mencari kebahagiaan. Di dalam film hal ini digambarkan melalui figur Sang Ayah yang di ujung waktunya ingin berkumpul dengan orang yang memiliki radiasi di dalam hidupnya. Sang putri yang dengan teknologi kontemporer berinteraksi, tanpa menyentuh, dengan sang Ayah karena ia sedang ada di tengah samudera. Tetapi kita lantas paham bahwa kebahagiaan di sini nyaris berhenti hanya pada pertemuan dan interaksi, tawa dan nostalgia. Sebentuk kebahagiaan yang instan (mungkin juga eutanasia diakhir film juga mau menggambarkan ini???). Titik. Dari sini kita disadarkan bahwa sesungguhnya hidup kita telah dilingkupi oleh ketakutan dan keragu-raguan. Ketakutan dan keragu-raguan akan hidup kita sendiri, akan kemampuan kita meraih kebahagiaan sejati. Selalu ada cara untuk menutup-nutupi itu, tapi pada akhirnya, mau tidak mau, terbuka juga.

Hal lain yang bisa dikatakan di sini adalah bagaimana manusia pada usianya yang telah matang sesungguhnya masih menyimpan “luka-luka dalam” dan immaturitas. Mereka yang berkumpul di rumah sakit adalah orang-orang tua yang serentak anak-anak (ketawa-ketiwi sekenanya, meledek sana-sini, dsb); juga anak-anak muda yang serentak begitu tuanya (seorang wanita muda yang mengajari bertahan hidup dengan obat, sang anak yang berusaha memahami sang ayah, dsb). Ada apa dengan manusia-manusia ini? Menurut saya, merekalah prototipe dari generasi-generasi luka sebagai produk dari sistem (dalam artian luas) yang luka, dan melahirkan generasi-generasi yang juga terluka. Dan bagus sekali digambarkan di sini: mereka semua dipertemukan dan berkumpul di rumah sakit: rumah orang-orang terluka, sebuah dunia yang menanti untuk disembuhkan atau mati.

Ini merupakan sebuah gambaran yang mengerikan dari dunia dimana kita sesungguhnya hidupi. Tapi apakah ini berarti film ini mau mendorong kita pada pesimisme? Nihilisme? Bagi saya tidak! Film ini justru mau menegaskan, lewat jalan yang lain (via negativa), apa yang yang mungkin luput dalam relasi kita, dalam penantian kita, atau bahkan dalam hidup kita: cinta. Kita sadar bahwa pada akhirnya kita membutuhkan ini. Ini juga sejenis barbar yang pada masa-masa lalu manusia kerap ditampik (direduksi, dipesimisi, dicurigai, dsb) karena begitu asing dan menakutkan (menakutkan karena di dalamnya ada tanggungjawab yang belum tentu setiap orang dengan rela hati menerimanya), tetapi serentak pula ini adalah hal yang paling dinanti-nantikan manusia di dalam hidupnya. Kebahagiaan dipahami dalam konteks cinta. Bila demikian maka yang terjadi bukanlah kebahagiaan yang instan tetapi yang sejati.

Kita memang hidup dalam situasi kontemporer yang bila kita menyadarinya membuat kita menggelengkan kepala dan mengelus-elus dada, tapi bukan berarti sudah tidak ada tempat buat cinta. Cinta inilah yang pada akhirnya membuat kita bisa tetap berdiri, meski pun sendirian, di dunia ini. Film ini mengajak kita untuk menanti sang barbar ini, bahkan mencari dan menyambutnya. Tetapi tentu tidak dengan tindakan yang sesungguhnya melawan cinta itu sendiri. Akhir kata: mari bersama menyambut sang barbar dengan senyum di ujung bibir, dengan “ya” di kepala, dan dengan maaf di hati.

Read More..

SATU POHON DI DUA MUSIM



Judul : Pergilah Ke Mana Hati Membawamu (Va Dove Ti Porta Il Cuore)
Pengarang : Susanna Tamaro (diterjemahkan oleh Antonius Sudiarja, SJ)
Penerbit & tahun : Gramedia Pustaka Utama, 2004
Tebal : 216 hlm


Sebuah novel. Sebuah surat. Sebuah diari. Sebuah kenangan dan pengakuan. Di dalamnya kita akan membaca bahwa manusia masih bisa berarti bila ia masih memiliki hati. Hati adalah satu-satunya benteng pertahanan kemanusiaan yang terakhir, yang tetap menggeliat pada setiap musim yang bergulir.

Olga, seorang nenek ringkih, kemarin baru menyadari bahwa tubuhnya mulai rapuh dan kasur kini menjadi sahabatnya. Ia sendirian, satu-satunya keluarga yang ada, yang dicintainya tidak ada di sampingnya. Ilaria, sang cucu, telah meninggalkannya di rumah dengan pintu yang terbanting, dan muka membelakangi. Olga sendirian, dan dalam kesendiriaannya itu ia membuat sebuah “pengakuan” – sebuah diari yang bertutut tentang kasih yang tak sampai, yang ditulis dengan hati. Semua itu ditujukan kepada Ilaria, sang cucu yang meninggalkannya dengan luka tertoreh di hati.

Membaca novel ini, kita tahu bahwa nuansa kejujuran dan rekonsiliasi begitu kental. Dua hal ini memang dirasakan sebagai hal yang perlu ketika manusia ingin menciptakan keintiman dalam hubungannya densan sesama. Jangan bilang bahwa keintiman adalah sesuatu yang hanya didambakan oleh wanita (yang dengan begitu halusnya tergambarkan dalam novel ini), semua manusia memerlukannya; bahkan bisa dikatakan bahwa sesunggunya pria lah yang sangat membutuhkannya, karena selama ini dunia sudah begitu keras dan kaku, kejam dan karam.
Susanna Tamaro, sang pengarang, adalah sosok pengarang yang begitu enggan akan dunia ketenaran dan kegaduhan. Menurutnya, ketenaran mengandung duri. Tak mengherankan bila ia juga menulis novel masterpiece –nya ini dalam suasana yang hening, yang hanya bisa dinikmati dalam keheningan. Dan keheningan adalah suasana yang bermukim di hati. Di masa kini rupanya banyak orang merindukan “hati”, mencoba ber-“hati” dan untungnya tidak sedikit yang memiliki “hati”. Tak heran bila pada tahun 1994 novel ini diganjar “Donna Citta di Roma”, sebentuk penghargaan prestisius di Italia, sebuah tanda yang menegaskan bahwa masih banyak orang yang memiliki dan merindukan hati.

Tapi bukan berarti gagasan daalam novel ini berhenti pada kesunyian hati macam itu. Ada kelindanan gagasan filosofis di dalamnya: tentang hidup, tentang cinta, tentang keluarga, rasa benci, dsb, juga tentang misteri. Kita segera mengerti bahwa kelindanan filsafat di dalamnya bukanlah sekedar “pengantar”, itu adalah sebuah gagasan yang mendalam. Dan dengan begitu cerdasnya, gagasan filosofis itu terbalut dalam bahasa metafor. Novel ini begitu banyak memuat metafor-metafor yang cerdas.

Apa yang menyebabkan novel ini menjadi suatu keharusan, suatu karya yang harus dibaca? Tidak ada… karena hati tidak pernah memaksa, dan setiap paksaan hanya akan menghasilkan kejemuan. Tapi bila kita ingin membacanya sampai lembar terakhir kita jadi tahu bahwa kita masih memiliki dan merindukan hati.

Read More..

Senin, 20 Oktober 2008

EXTRA MUNDUS NULLA SALUS: DI LUAR DUNIA TIDAK ADA KESELAMATAN


Judul : Satu Bumi, Banyak Agama: Dialog Multi-Agama dan Tanggung Jawab Global (One Earth, Many Religion)
Pengarang : Paul F. Knitter (diterjemahkan oleh Nico A. Likumahua)
Penerbit & tahun : BPK Gunung Mulia, 2003
Tebal : xvii + 282 hlm

Adalah fakta bahwa dunia yang satu ini dihuni oleh beraneka ragam agama. Yang beraneka ragam tersebut tidak perlu diseragamkan, yang perlu adalah bagaimana menemukan pijakan kokoh untuk duduk bersama di meja perjamuan yang telah kosong agar yang beraneka ragam itu tidak saling memakan. Knitter mengusulkan agar bumi dan penderitaan menjadi santapan pagi bersama.

“Rubah (the fox) tahu beragam hal, tetapi landak (the hedgehog) hanya tahu satu hal besar.” (Archilocuschus, penyair Yunani).

Para teolog pluralis yang berkecimpung dalam hubungan dan dialog antar agama, bisa digolongkan dalam 2 katagori besar (tanpa bermaksud mereduksi pernik keberagamaan yang ada; sekedar mempermudah): Teolog “Landak”, yaitu mereka yang meyakini bahwa betapa pun beragamnya agama tetapi mereka bisa dihubungkan oleh satu pandangan, kebenaran tunggal; teologi landak merupakan sebuah sistem yang koheren sehingga heterogenitas agama dilihat bukanlah sebagai sesuatu yang chaos, tetapi bisa sepenuhnya bisa dimengerti dalam kerangka universal: bahwa ada Allah yang sama di sana. Di sisi lain, ada yang bisa disebut Teolog “Rubah” yang kekeuh melihat pluralitas agama sebagai kenyataan yang plural, sehingga mereka tidak berpretensi untuk meringkus agama-agama yang ada ke dalam suatu sistem tunggal.
Para Teolog “Landak” tidak akan pernah bisa mempertemukan para pemeluk agama yang berbeda di meja perjamuan yang sama, karena tidak semua agama yang ada meyakini bahwa di jantung setiap agama ada Satu Sistem Tunggal yang biasa disebut sebagai Allah/Tuhan (Kung & Kuschel: Etik Global, 1999). Selain itu juga ada “kendala teknis” yang bisa sangat menggangu jalannya dialog: bahwa ketika saya yang Katolik menggunakan kata “Allah” dalam dialog, belum tentu mereka yang Islam memahami sebagai Allah yang sama di dalam pikiran mereka. Maka bisa terjadi dalam sebuah dialog pemaksaan kekuasaan dan bukannya keselamatan bersama. Para teolog “Rubah” (khususnya Knitter), dengan segala keberatan yang mengelilinginya, mencari pijakan yang lain untuk menciptakan sebuah, istilah dari Knitter sendiri, “dialog yang korelasional dan bertanggungjawab secara global.” Pijakan itu tidak pada Allah yang sama tetapi pada bumi yang satu dan hembusan nafas setiap manusia yang senantiasa membaui penderitaan.

Dengan data yang begitu lengkap dan uraian yang meyakinkan Knitter menyodorkan kepada para pembaca suatu realitas yang hanya orang bebal yang tidak mengakuinya: bahwa penderitaan yang dialami manusia sudah begitu bersifat global dan secara kuantitatif mengerikan. Dan bila kita ingin keluar dari situasi ini tentu menuntut tanggung jawab yang global juga. Ini adalah pijakan pertama dimana setiap pemeluk agama bisa duduk berdampingan bersama. Pijakan kedua adalah penderitaan yang dialami bumi, tempat tinggal manusia. Bumi telah menjadi tempat bermukim yang tidak nyaman lagi. Ini bukan karena kesalahan bumi itu sendiri, tetapi karena manusia yang tidak tahu diri: memeras bumi sehingga yang tersisa hanyalah debu, abu, dan hutang untuk anak cucu manusia.

Yang harus terjadi dalam sebuah dialog antar umat beragama adalah penegasan kembali komitmen mereka akan soteria – kesejahteraan manusia dan lingkungan. Ini adalah kerinduan dan pijakan bersama di mana setiap pemeluk agama yang beragam bisa duduk berdampingan. Mungkin Knitter benar ketika menegaskan bahwa, meminjam istilah Schillebeeckx, tidak perlu dan tidak banyak berguna bagi manusia untuk mencari keselamatan di langit sana atau di dalam setiap sistem keagamaan tertentu, karena keselamatan ada di dalam dunia dan keselamatan itu hadir tatkala para penghuninya dan alam lingkungannya juga merasakan keselamatan yang juga dirindukannya.

Buku ini menyisakan sesuatu yang penting bagi para pembacanya (dan tentunya bagi mereka yang berkutat dalam dunia teologi): sejauh mana kepeduliaan dan kepekaan kita terhadap carut marut kenyataan kehidupan beragama kita. Bila kita mengatakan peduli, mengambil dan membaca buku ini adalah satu langkah awal yang sangat baik; satu langkah awal yang bisa menuntun kita pada ribuan kilo kepedulian lain. Bila kita tidak peduli biarkan saja buku ini tertanam di dalam tanah, agar rayap yang membacanya.

Read More..

KETIKA AGAMA BERADA DI TEPI JURANG


Judul : Kala Agama Jadi Bencana (When Religion Becomes Evil)
Pengarang : Charles Kimball (diterjemahkan oleh Nurhadi; kata pengantar oleh Sindunata)
Penerbit & tahun : Penerbit Mizan, 2003
Tebal : 360 hlm


Sebuah buku yang membedah potensi destruktif dari agama. Tapi jangan kuatir, sebagai sebuah peziarahan, agama pun bisa dihadirkan dan dialami sebagai jalan keselamatan, cinta, dan perdamaian. Dalam peziarahannya menuju autentisitas tersebut agama memerlukan kompas, yaitu tradisi dalam doktrin yang hidup: iman, harapan, dan kasih. Ini memang sebuah langkah mundur, tetapi bila seorang ada di tepi jurang yang menganga, langkah mundur adalah sebuah langkah yang arif dan bijaksana.

Belakangan ini banyak tangan menunjukkan jarinya kepada agama: tersangka utama berbagai realitas hitam di dunia, realitas yang menggambarkan bahwa dunia memang seakan-akan wadah malapetaka. Ini bukan hal yang baru, tetapi nuansa agama sebagai sumber, penyebab, dan alasan bagi kehancuran dan kemalangan umat manusia semakin mengental. Dan anehnya, memang banyak orang mengamini bahwa agama memang bisa menjadi sumber-sumber malapetaka yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini tentu bukan gambaran menyeluruh dari agama. Agama yang autentik bahkan bisa menghantar pada sebuah gambaran kedamaian yang juga tak terbayangkan. Tetapi tentu kita tidak bisa mengabaikan kenyataan yang sedang berlangsung saat ini. Hanya dengan masuk ke dalam kebusukan dan kerusakan serta kekorupan agama, kita bisa menemukan apa yang mungkin bisa dihindari di masa depan, sembari melihat kompas yang sebetulnya sudah kita pegang di tangan. Charles Kimball dalam bukunya ini mencoba untuk melakukan hal ini.

Dalam usahanya untuk menelanjangi agama yang secara kongret dihayati oleh para pemeluknya, Kimball mendiagnosa adanya 5 (lima) potensi kerusakan dalam agama; lima potret yang harus segera diwaspadai karena bisa menjerumuskan agama ke dalam sebuah lakon antagonis-destruktif. Pertama, potret agama yang mengklaim kebenaran yang mutlak dan satu-satunya ada dalam genggamannya sendiri. Kedua, potret kepatuhan yang luar biasa terhadap pemimpin agama, tanpa disertai sikap kritis. Agama yang merindukan dan menantikan zaman yang ideal, dan berusaha sekuat tenaga merealisasikannya sekarang merupakan potret yang ketiga. Potret yang keempat menghadirkan agama yang berbisnis: tujuan harus tercapai apapun caranya. Agama yang militan, yang tidak segan-segannya berteriak dan melakukan perang suci, dapat digambarkan dalam bingkai potret yang kelima.

Ini memang sebuah literatur yang lebih mau menggambarkan potret hitam dari agama, jadi jangan terlalu kaget bila di dalamnya kita akan menemukan betapa banyaknya gambaran real tentang bagaimana agama bisa menstir orang atau kelompok tertentu melakukan tindakan yang membuat kita menahan nafas dan mengelus dada. Tetapi Kimball tidak berhenti di situ. Ia juga mengarahkan kameranya pada sesuatu lansekap dari agama yang memungkinkan kita bisa bernafas dengan lega dan tenang: bahwa agama juga memiliki dan pernah mempraktekan beberapa tradisi yang saat ini bisa dihidupkan dan diintensifkan: iman, harapan, dan kasih (cinta).

Saat ini Agama memang bisa ditinggalkan oleh setiap orang, bahkan mungkin salah satu dari kita telah melakukannya (meski pun dalam tataran konseptual), tapi sebelum betul-betul meninggalkan agama baik bila kita membawa juga pikiran ini: apakah kita tidak membuang air mandi berikut dengan bayinya? Air mandi itu adalah kemungkinan kebusukan-kebusukan, ketidaktoleransian, kekorupan dari agama, dan si bayi adalah idealisme, tradisi, dan doktrin agama. Agama adalah sebuah peziarahan yang saat ini telah mengangkat dan menemani manusia dengan kesetiaannya, sebuah peziarahan yang siap untuk berkemas dan berjalan kembali dengan kompas yang ada di tangan.

Bagi mereka yang tertarik dalam hal studi keagamaan dan perbandingan antar agama, buku ini menjadi suatu pengantar untuk bisa masuk menelusuri interioritas agama dan manusia. Bagi mereka yang hendak membacanya: selamat membaca, selamat menatap ke depan: lansekap terbentang di depan dan ada harapan di sana.

Read More..

Minggu, 19 Oktober 2008

Negative Theology and Modern French Philosophy


Judul : Negative Theology and Modern French Philosophy
Genre : Teologi Filosofis (Philosophical Theology)
Penerbit : Routledge, 2004
Pengarang : Arthur Bradley
Halaman : 224 hal


“Theological Turn”

Sesungguhnya dari judulnya saja, para pembaca sudah bisa mengira-ngira apa yang ada di dalam buku ini, yaitu pengeksplorasian Teologi Negatif (selanjutnya disingkat TN) dalam denyut-denyut filsafat Prancis modern. Namun, ini bukan sembarang eksplorasi. Ini adalah sebuah usaha pencarian berteologi di jaman atheologi, dan yang membuat buku ini sangat layak diperhitungkan adalah gada yang digunakan untuk meratakan persoalan yang ada: dekonstruksi a la Derridean! Ya, betul Derrida filosof dekonstruktif itu! Dalam karya-karyanya yang terakhir Derrida ternyata memberikan perhatian pada tema-tema yang berbau-bau teologi: “faith”, “religion”, “prayers of tears”.

Sebenarnya, teologi di Prancis (bahkan mungkin dunia) sudah kembali mulai dihidupkan, maka tema-tema religius menjadi suatu alternatif yang mengagumkan dan tidak memalukan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dan problematika yang menghantui dari dekonstruksi sampai fenomenologi, dari genealogi sampai psikoanalisa. Betul, bahwa saat ini telah terjadi “teological turn”. Namun, dari berbagai isu teologis yang ada, manifestasi isu yang paling jelas terlihat, penuh dengan enigmatika, dan sangat mengejutkan adalah meriahnya ketertarikan para pemikir dunia dengan Teologi Negatif, atau nama lainya Teologi Apopatik, atau sederhananya, jalan negatif (via negativa). Dan Derrida adalah satu-satunya pemikir yang secara gamblang berteriak: “Sauf le nom!” (Saving the Name) bagi teologi ini. Tentu, tidak ada yang istemewa dalam teriakan ini kalau saja bukan Derrida yang berteriak, karena di tangan dan pikiran Derrida proyek utamanya berkaitan dengan tema ini adalah an attempt to repeat it differently.
Maka TN tidak lagi menjadi sesuatu yang sebagaimana biasa telah kita ketahui bersama.
Untuk memperkokoh pemikiran mengenai TN yang ditawarkan secara baru, sang pengarang buku menggunakan juga metode komparatif yang cukup menarik. Menarik, bukan karena tokoh-tokoh yang digunakan sebagai komparasi adalah tokoh-tokoh yang berkelas (Michael de Certeau, Jean-Luc Marion, Michael Foucault dan Julia Kristeva), namun terlebih-lebih bagaimana Derrida membentangkan kemungkinan TN ini dalam filosof-filosof di atas yang jelas-jelas bersikap berseberangan dengan TN nya Derrida, bahkan dua tokoh terakhir di atas (Foucault dan Kristeva) jelas-jelas berada di luar ranah teologi. Komparasi ini hendak meneguhkan sebuah ide bahwa TN merupakan sebuah alternatif jaminan berteologi dijaman kiwari.


Semesta Derrida

Apa yang menarik dari TN yang dibaca secara berbeda oleh Derrida?
TN adalah sebuah gelar untuk tradisi teologis yang menekankan bahwa yang ilahi tidak akap pernah bisa dimengerti dalam kerangka pemikiran manusiawi karena yang ilahi itu sungguh-sungguh total transenden. Oleh karena itu, dalam rumusannya TN tidak pernah menggunakan bahasa-bahasa positif ataupun antropomorpik, namun melalui bahasa negatif, bahasa-bahasa paradok dan kontradiktif, yang jelas menggunakan bahasa-bahasa yang menekankan ketidakadekwatan bahasa manusia untuk merumuskan transendensi Sang Ilahi. Atau sederhananya, TN adalah teologi yang mengatakan apa yang bukan Tuhan itu ketimbang sebalikya. Singkatnya, TN mencoba untuk menekankan keberbedaan radikal Tuhan dari segala pencitraan manusia akan Tuhan dan dengan demikian mengaffirmasi Tuhan sebagai sosok yang absolut tak bisa diketahui, dikomprehensikan, dan tak terreduksi oleh segala usaha pemikiran manusia.

Derrida tidak melihat dengan kacamata yang biasa seperti di atas tersebut sehingga potensi dari TN bisa dioptimalkan. Jika kita menggunakan rumusan dan arti di atas, sesungguhnya kita bisa melihat bahwa apa yang mau disasar oleh TN persis sama dengan Teologi Positif, hanya dengan jalan yang berbeda. Bahkan, sebagaimana disinyalir oleh Derrida, kedua bentuk teologi ini ada dalam kerangka berfikir onto-teologi yang menjadikan pemikiran mengenai Tuhan terkontaminasi dalam jerat metafisika, jerat Being. Ini pada akhirnya, tetap memenjarakan Tuhan dalam konsep yang terbatas. Oleh karena itu, sebetulnya dua cara berfikir ini perlu distigmatakan, didekonstruksi. Namun, lantas mengapa Derrida hendak ingin mempertahankan TN, jika jelas-jelas terbuktikan bahwa TN adalah wajah lain dari onto-teologi? Jawabannya sederhana: karena sesungguhnya jika kita bisa melihat TN secara berbeda maka di dalamnya kita akan menemukan nebula-nebula yang tersembunyi, beraneka-ragam, berlimpah-ruah yang merupakan potensi berteologi yang sangat dahsyat. Jika kita bisa membacanya secara berbeda, TN bukanlah obyek dekonstruksi melainkan dekonstruksi itu sendiri!

Dalam pembacaan yang berbeda terhadap TN Derrida menemukan bahwa TN adalah sebentuk perjalanan menuju sesuatu yang berbeda belaka (“passage to the totally other”). Perjalanan ini menghantarkan Derrida pada konsep mengenai “hospitality”, bukan sekedar hospitalitas biasa, namun hospitalitas yang radikal: yang menyambut perbedaan (yang total), kontradiksi (yang total), dan ambiguitas (yang total) dengan ramah di rumah pikiran kita.

Jejak-jejak harapan

Apa yang bisa dibentangkan sebagai kemungkinan terbaik dari pemikiran Derrida dalam buku ini?

Pertama
, kristianitas diajak untuk mampu menampilkan dirinya sebagai sebuah agama yang terbuka terhadap kemungkinan tak bersyarat melihat other religions dan the other of religion dalam kerangka suasana yang toleran, diwarnai hospitalitas, serta semangat ekuminikal. Sangat jelas, dialog antar agama bisa diantar menuju sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih tulus.

Kedua,
TN yang dibaca secara berbeda oleh Derrida menuntut kita untuk membayangkan sebuah relasi yang non-monolitik, kerangka yang plural dan fraktal antara filsafat dan teologi, sehingga masing-masing disiplin ilmu di atas semakin mampu memurnikan identitas dirinya masing-masing sehingga menghindari kesewenang-wenangan menyingkirkan satu sama lain. Dengan demikian, pada akhirnya, setiap saat dalam sejarah relasi antara filsafat dan teologi bisa di rumuskan ulang sebagai tidak lain dari pada ritme dan ekonomi yang tak terhindarkan dari ketidakstabilan yang tiada henti di dalam masing-masing ilmu itu sendiri.

Ketiga,
TN a la Derrida mengajak kita untuk mampu menjungkirbalikan fatalitas dalam segala konsep yang kita miliki dan mentransformasikan fatalitas itu menjadi kesempatan untuk melahirkan etika-politik yang jauh lebih baik, jauh lebih bertanggungjawab terhadap sesama, secara konkret TN bisa dijadikan dasar untuk memberikan ruang terhadap persoalan imigrasi atau pun pencari suaka, dll.

Read More..

Free Blogspot Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger