
Judul : Casa de Aeria [The House of Sand]
Sutradara : Andrucha Waddington
Skenario : Elena Soarez
Pemain : Fernanda Montenegro, Fernanda Torres, Ruy Guerra, Seu Jorge, Stênio Garcia, Luiz Melodia
Film ini adalah sebuah meditasi yang lembut dan lambat tentang tempat manusia di dalam waktu semesta ini, di ujungnya kita digiring pada sekilas gambar yang sinis mengenai hasrat dan sejarah manusia yang tidak mesti selalu berhubungan dengan mesra. Namun, tak perlu berkecil hati karena masih ada celah kecil untuk mensiasatinya, tanpa harus mencipta cela besar.
Tahun 1910, diiringi musik yang mendesir, dari sudut layar mulai bermunculan serombongan orang yang tampak berjalan dengan tak mudah. Mereka berjalan di atas hamparan pasir tak berujung, dengan wajah yang letih dan berputus asa. Pemimpin rombongan itu adalah Vasco (Ruy Guerra, “Fabel of the Beautiful Pigeon Fancier”), suami dari Áurea (Fernanda Torres, “Four Day in September”) yang sedang mengandung, menantu dari Donna Maria (Fernanda Montenegro, “The Other Side of the Street”); serta beberapa pelayan mereka. Vasco menggiring keluarga serta para pelayannya ke Maranhão, sebuah daerah yang hanya berpenghuni hamparan bukit pasir di Selatan Brazil, dengan membawa hasrat yang berbahaya: menjadi tuan yang kekal di tanah yang tak bertuan dan tak diingini oleh siapa pun. Tak lama berselang kita segera tahu, bahwa film ini bukan diperuntukan untuk kisah Vasco dengan hasratnya, karena ia meninggal tertimpa rumah yang sedang dibangunnya sendiri. Dan semua pelayannya pun pergi, tak bersisa..
Tinggallah Áurea & Donna Maria (anak dan ibu, juga dalam kehidupan nyata) yang mencoba bergulat dengan situasi yang ada dan sangat ingin hengkang dari tempat laknat itu. Namun, hasrat mereka tergerus fakta bahwa: mereka tidak mampu melawan waktu yang bergerak di atas pasir. Yah, lantas film bergulir tentang Ibu dan anak di dalam rumah yang mereka dirikan di atas pasir. Selama tiga generasi mereka tinggal di tempat itu, tanpa pernah bermimpi untuk hidup di dunia yang lain. Áurea pun sempat membentuk keluarga baru dengan Massu (Seu Jorge, “City of God”, “the Life Aquatic”), bekas seorang budak pelarian yang bekerja sebagai nelayan. Pada sebuah kesempatan, generasi mereka yang terakhir (yang diberi nama Maria), akhirnya punya peluang untuk berjuang di dunia yang tanahnya tak bergerak.
Andrucha Waddington (“Me You Them”, “Gêmeas”), mengkhiri film yang berdurasi 114 menit ini dengan sebuah senyum misterius atas pertanyaan yang merupakan modifikasi dari teori relativitas Einstein, ketika manusia sudah mulai menemukan jalan ke bulan: kalau ada sepasang anak kembar, yang satu pergi ke bulan, dan satunya lagi menetap di bumi; apakah yang terjadi saat dia yang pergi ke bulan datang kembali ke bumi: “apakah saat ia kembali, ia berusia lebih muda dari saudaranya?”. Yah, Áurea & Donna Maria sudah menjawab pertanyaan itu jauh-jauh hari, bahkan sebelum manusia menemukan jalan ke bulan, karena saat manusia pergi ke bulan, manusia tidak menemukan apa pun, selain hamparan pasir!
Kita menyadari bahwa waktu bergerak, relatif, dan segala hasrat manusia yang didasari secara mutlak di atasnya bisa bernasib sebagaimana sebuah rumah yang dibangun di atas pasir. Selain kemungkinan rubuh, tapi ada juga kemungkinan lain: tertimbun. Siapa pun yang bersikukuh berdiam di dalamnya, akan rubuh atau terkubur sendiri di dalam hasrat mutlaknya. Lantas, dimanakah letak kemungkinan ultim manusia, jika waktu hanya memberi jeda sejenak saja? Masih ada sesuatu yang bisa dipegang dan dijaga manusia saat dunia disadari sebagai sandaran yang rapuh?
Adalah Schopenhaur (1788 – 1860), yang memberikan alternatif jawaban pesimistis dan irasional atas pertanyaan di atas, namun sudah dirasa cukup untuk memahami dunia dan manusia. Menurut Schopenhaur, jawaban itu haruslah di temukan di dalam sesuatu yang tidak arif, tanpa rasionalitas, yaitu di dalam Wille (kehendak), sebentuk gairah, daya dan dorongan yang buta. Dengan wille inilah manusia bisa membentuk tubuh dan hidupnya dan berdamai dengan dunia. Irasionalitas ini makin menjadi rasional saat Schoupenhaur meyakinkan bahwa dengan wille nya, manusia dapat secara sadar menciptakan vorstellung (bayang-bayang) dunia di dalam dirinya. Sehingga, di dalam diri manusia, dunia menjadi sebentuk kesadaran yang tergenggam, tertaklukan. Benarkah demikian? Telah selesaikah semua?
Ternyata tidak. Bahkan saat manusia melakukan proses sublimasi kesadaran itu dengan tarak (askese) yang keras. Karena persis seperti itulah yang diharapkan dan dilakukan Vasco, yang pada akhirnya menjadi sesosok yang paling malang di dalam film ini: ia mati terlebih dahulu, bahkan sesungguhnya sebelum ia menginjakkan diri secara utuh di hamparan impian berpasirnya itu. Lantas, apa yang ditawarkan film ini?
Pada suatu ketika, Massu membantu Áurea menanam sebatang pohon kelapa di dalam pasir, di depan rumahnya. Menanam sebatang pohon kelapa di hamparan bukit pasir adalah suatu yang nyaris tiada berguna selain menandakan bahwa ada kehidupan yang nyata di bawahnya. Pohon kelapa itu punya fungsi lain: mengajak Áurea berfikir bahwa berjuang untuk sebuah gagasan tanpa terlebih dahulu mengenal diri sendiri adalah hal paling berbahaya yang bisa dilakukan manusia. Seperti pohon kelapa di bukit berpasir itu: menyebarkan akar terlebih dahulu di dalam tanah, baru bertumbuh menjulang. Dan, saat kita berada di persimpangan-persimpangan jalan yang membingungkan dan memperkeruh, situasi-situasi yang menumbangkan gagasan-gagasan terhebat kita, kita tahu masih ada sesuatu yang tertanan dengan anggunnya: cinta di dalam hati.
Betul, film ini mau menyajikan hati sebagai jalan keluar dari problematika waktu manusia yang bisu di atas pasir. Itulah alasan mengapa, di pengujung film ini, Maria (anak Áurea) berani menapakkan kaki kembali di bukit berpasir ini untuk menjumpai Áurea tua. Karena di situ, ada sebuah hati yang mengajarkan kepadanya untuk tetap memiliki hati saat dunia tidak memberikan alasan yang baik untuk hidup, saat hasrat-hasrat tergelap manusia menyeruak ke permukaan. Mungkin dunia memang tidak akan pernah berubah, namun, paling tidak kita bisa menyadari bahwa ada dua sosok tubuh yang berusaha memberi warna lain di dunia ini. Warna yang lahir dari dalam hati Áurea dan Maria. Kedua-duanya adalah perempuan.
Minggu, 23 November 2008
Casa de Areia
Diposting oleh tejo di 17.49
Langganan:
Postingan (Atom)
