Minggu, 19 Oktober 2008

Apakah “God feel at home” di Prancis?


Judul : God In France. Eight Contemporary French Thingkers on God
Genre : Teologi Filosofis (Philosophical Theology)
Penerbit : Peeters– Leuven, 2005
Pengarang : Peter Jongker & Ruud Welten (eds.)
Halaman : 227 hal



Apakah “God feel at home” di Prancis?

Filsafat telah memetakan sebuah putaran penting dalam konstelasi wacananya, yaitu hermenetika. Konsekwensinya sangat jelas, yaitu Filsafat tidak akan pernah lagi secara gegabah mendaku mampu menghadirkan dirinya sebagai philosophia parennis (filsafat kekal) yang mampu mentransendensikan sekat-sekat yang mengungkungi ruang dan waktu, karena universalitas pemikirannya serta keabsolutan objeknya, Tuhan. Saat ini filsafat mengamini ini: bahwa saat berfilsafat adalah saat untuk menyadari kembali keterbatasannya (bahasa, situasi, konteks, dst). Menjadi sangat menarik saat dengan kesadaran cerdas ini filsafat mulai secara perlahan merambah sembari meraba persoalan mengenai Tuhan. Buku ini adalah kumpulan hasil perabaan para filosof-filosof perancis mengenai tema yang sama: Tuhan.

Apa yang sesungguhnya menjadikan buku ini menarik dan menantang? Gaya pemikiran yang heuristic lah yang menjadikan buku ini menarik dan menantang. Memang gaya pemikiran heuristic bukanlah hal yang anyar di dalam filsafat: tunjuklah Descartes dan Leibniz yang menggunakan matematika sebagai sebuah paradigma untuk mengais-ais pengetahuan yang sejati, atau ranah ekonomi yang ditekankan oleh Marx untuk menggapai pemamahaman filosofis dalam membentuk masyarakat modern, lihatlah juga Heidegger yang menggunakan puisi-puisi Hölderin untuk menjelajahi jejak-jejak lamat sang Being. Namun, yang jauh lebih membuat buku ini menarik dan menantang adalah bagaimana di jaman yang dibaluri sekularisme dan atheisme (dengan segala variasinya) sekarang ini, ide-ide religius digunakan sebagai lampu penerang berfilsafat. Ide-ide religius itu pun digunakan secara heuristic sehingga para pemikir yang dihadirkan di dalam buku ini menawarkan kesegaran baru bahwa baik isi dari ide-ide religus yang mereka lontarkan dan juga jalan yang mereka gunakan untuk melontarkan ide-ide ini mampu menaburkan sepercik pijar yang berbobot dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penting filsafat dan teologi.

Karenanya, di dalam buku ini paca pembaca akan menemukan, sambil terkagum-kagum barangkali, bahwa para filosof-filosof yang ditampilkan di dalam buku ini hanya dengan mengandalkan kodrat akalbudi manusia semata (tanpa mengundang revelasi supernatural atau premis-premis teologi yang ada), mampu memberikan jawaban yang patut diperhitungkan berkaitan dengan persoalan yang tidak sepele, misalnya, relasi antara kontingensi dunia dan Tuhan sebagai dasar absolut, rasionalitas kemahakuasaan Allah, prinsip-prinsip providensial (penyelenggaraan ilahi) di dalam dunia, kebebasan manusia dalam kaitannya dengan keabsolutan Tuhan, dan lain sebagainya.
Filosof-filosof yang diketengahkan untuk menjawab persoalan-persoalan di atas adalah filosof-filosof yang berasal dari Prancis. Para filosof Prancis ini adalah arsitek-arsitek yang merasa bertanggungjawab untuk membangun “rumah tanpa dinding”; musikus-musikus yang “berdendang tanpa nada dan notasi” bagi Tuhan, agar God feel at home di Prancis.




Sistematika: benak-benak filosofis menjejaki Tuhan


Berikut ini kurang-lebih isi dari buku bab per bab. Pada bab awal, diketengahkan pemikiran Heidegger berkaitan dengan fenomenologi. Aneh, karena tampak seperti kesasar, karena bukankah Heidegger adalah orang Jerman dan bukan Prancis? Tapi menjadikan Heidegger sebagai bab pembuka adalah sesuatu yang sangat tepat, karena semua pemikir Prancis di dalam buku ini dipengaruhi oleh pemikiran Heidegger (meskipun pada beberapa pemikir Prancis di dalamnya pemikiran Heidegger sendiri, misalnya berkaitan dengan Fenomenologi, dikritisi dan bahkan dibetot-betot sampai ke titik yang radikal). Yang terutama disoroti dari pemikiran Heiddeger adalah kritiknya atas onto-theologi dari sudut fenomenologi. Dari kritik ini, Hedegger memberikan peringan yang tegas dan jelas untuk teologi: bahwa saat sekarang ini adalah jaman “the loss of gods”, dimana saat kita berteologi selalu berarti terlalu terlambat (too late) namun serentak juga terlalu buru-buru (too soon). Singkatnya tidak ada harapan bagi teologi di masa kini (God in France: Heideegger Legacy, oleh Peter Jongkers). Benarkah demikian? Tampaknya tidak, paling tidak bagi para filosof Prancis yang disajikan di dalam buku ini. Meskipun mereka menggunakan kritik yang sama terhadap onto-theologi, namun mereka berhasil membetot fenomenologi ke sudut-sudutnya yang paling radikal. Di titik radikal itulah, secercah harapan muncul bagi teologi. Yah, teologi memang tidak pernah dan seharusnya jangan sampai berhenti di tengah jalan. Teologi adalah ilmu yang radikal.

Bab selanjutnya ada Ricoeur (Paul Ricoeur: Thingking the Bible, oleh Theo de Brur) yang mencoba untuk mengharuskan filsafat untuk menyingkapkan struktur yang universal dan struktural yang mengedap-edap tersembunyi dalam pluralitas mitos-mitos dan simbol-simbol individual, sebagaimana yang tersingkap dalam semua agama, namun di sisi lain filsafat harus sadar diri: ia berada dalam level imanen karenanya jangan gegabah untuk mengatakan sesuatu pun yang berada dalam garis transendensi vertikal. Dalam artikel ini, argumen Ricoeur diakhiri dengan usulan untuk sebuah rehabilitasi bahasa non-spekulatif, sebuah cara berfikir tanpa memiliki pretensi terhadap metafisika tradisional yang gemar melakukan totalisasi.
Bukan hanya Ricoeur yang mengkritik onto-theology yang sudah dimulai oleh Heidegger, Girard pun (melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda Every Man Has a God or an Idol: Renē Girard’s View of Christianity and Religion, oleh Guidio Vanheeswijck). Menurut Girard onto-theologi adalah sebentuk kesewenang-wenangan filosofis karena sebetulnya onto-theologi adalah sebuah usaha pencarian identitas yang mengaburkan perbedaan antara Being dan beings, dan akhirnya mereduksi Tuhan menjadi sebuah being, meskipun tertinggi. Akibatnya, Tuhan tidak lagi menetap sebagai yang transenden.
Berkaitan dengan hal yang sama, tampaknya Levinas (This Extraodrinary Word: Emmanuel Levinas on God, oleh Johan Goud) tak tanggung-tanggung karena proyek pemikirannya adalah hendak menciptakan sebuah pemikiran mengenai Tuhan yang betul-betul tidak terkontaminasi oleh virus metafisika atau onto-theology, karenanya pun jalur pemikirannya menempuh jalur “atheistik”: etik. Dengan mengacu pada Keluaran 33, Levinas menandaskan Tuhan sebagai sebuah “jejak”, sebagai sesuatu yang telah “lewat”. Melalui Levinas, teologi diingatkan bahwa Tuhan tetaplah sebuah misteri.
Tokoh lain yang mencoba untuk meluluhlantahkan metafisika (khususnya onto-theology) adalah Derrida (God as War: Derrida on Divine Violence, oleh Rico Sneller). Segala usaha Derrida adalah dekonstruksi terhadap representasi Tuhan sebagai supreme being. Dalam usahanya ini, Derrida meradikalisasi situasi problematik onto-theology dengan meletakannya dalam konteks kesemena-menaan logosentrisme yang kadung mendominasi pemikiran barat. Logosentrisme adalah cara berfikir dimana kebenaran memiliki kodrat spiritual, lantas jadinya, secara prinsipil, mampu untuk ditatap oleh mata pikiran (yang secara prinsipil juga berkodrat spiritual). Dalam logosentrisme, Tuhan berfungsi sebagai referensi transendental yang menjamin makna yang stabil bagi segala ucapan dan pikiran mengenai Tuhan. Bagi Derrida, tuhannya onto-theology tampak sebagai syarat kemungkinan untuk memikirkan realita dalam kerangka kehadiran (presence), kemungkinan untuk dihadirkan kembali (representability), dan objektivikasi. Oleh karena itu hanya ada satu kata untuk onto-theology: dekonstruksi yang tiada kenal lelah. Karenanya teologi haruslah memikirkan “how (not) to speak about God?
Pertanyaan menarik dari Derrida ini, secara tidak langsung tentunya, dijawab oleh tokoh lain: Lyotard (Phrasing God: Lyotard’s Hidden Philosophy of Religion, oleh Chris Doude van Troostwijk). Lyotard menawarkan tiga strategi berbeda bagi kita untuk serentak berbicara mengenai Tuhan namun juga tetap diam mengenai Tuhan: [1] berbicara melalui perantaraan (speaking indirectly), [2] berbicara dengan lidah mendua/bercabang (forked tongue), [3] bicara tanpa menggerakan bibir (ventriloquism). Dasar dari stategi yang ditawarkan Lyotard ini adalah bahwa Tuhan tidak bisa dijadikan sebuah obyek dari pemikiran metafisika. Sebaliknya, sang absolut hanya dapat dihadirkan dalam wacana manusia dengan cara yang ketat menekan (represeed way), sehingga wacana tersebut mampu untuk terdestabilisasi serta bertransformasi.

Kritik Henry (God is Life: On Michael Henry’s Arch-Christianity, oleh Ruud Welten) atas onto-teology mengambil jalur yang berbeda sama sekali. Bagi Henry ada relasi struktural yang erat antara fenomenologi radikal dengan kristianitas, karena kedua-duanya berawal dari sebuah pemeristiwaan, pemanifestasian, pewahyuan. Pewahyuan tidak pernah berarti sebagaimana yang selama ini fenomenologi Hussrel tunjukan: pewahyuan akan “sesuatu”, tapi pewahyuan mewahyukan wahyu itu sendiri; “Aku adalah Aku” tegas Tuhan kepada Musa. Tuhan adalah hidup itu sendiri, hidup yang tidak bisa direduksi menjadi hidup yang lain. Maksudnya jelas, Tuhan tidak bisa dijejalkan dalam kerangka Being.

Marion (The Paradox of God’s Appearance: On Jean-Luc Marion, oleh Ruud Welten) menggunakan konsep idol dan ikon untuk mengklarifikasi dan menyeimbangkan isu-isu yang dibahas di atas. Idol mengacu pada pengalaman manusia akan yang kudus, dimana yang kudus direpresentasikan sebagaimana terlihat hanya dari sudut pandang manusia. Sudut pandang ini menjadi baku dan kaku, saat idol menjadi titik berhenti dari segala penjelajahan pandangan manusia dan membakukan dirinya sendiri. Konsep ini mengacu pada kebiasaan berfikir mengenai Tuhan dalam kerangka ‘konstruksi’ dan ‘konseptualisasi’, kebiasaan kurang ajar yang biasa dilakukan onto-teology. Sebagai sebuah konsep, Tuhan tidak lagi menjadi sesuatu yang tak terbatas dan tak terpahami namun menjadi patung yang beku dan kaku dalam batas-batas kapasitas kemampuan manusia untuk merepresentasikan.

Tokoh terakhir yang dibahas adalah Lacoste (Phenomenology, Liturgy, and Metaphysics: The Thought of Jean-Yves Lacoste, oleh Joeri Schrijvers). Lacoste memberikan sebuah penjelasan atas konsekwensi kritik-kritik terhadap onto-teologi (terutama kritik dari Heiddeger) bahwa saat ini teologi memiliki kewajiban ganda: di satu sisi teologi harus berusaha untuk membebaskan diri sebebas-bebasnya dari perselingkuhan dengan metafisika, dan di sisi lain, saat telah memisahkan takdirnya dari segala jenis pemikiran metafisika, mencoba untuk menerima kebenaran Being (the truth of Being).



Beberapa Catatan yang tersisa


Apa yang bisa dipetik dari buku ini, selain tentu saja eksplorasi-informatika yang sungguh-sungguh bisa dipertanggungjawabkan dari buku ini? Namun, tentu saja, sebagai hidangan pembuka untuk memasuki peta pemikiran para tokoh-tokoh yang disajikan sendiri, buku ini mampu memberikan hidangan yang sungguh menggoda untuk langsung masuk ke dalam hidangan utama, yaitu buku-buku yang langsung ditulis oleh para filosof yang ada. Selain ini, peninjau juga menemukan beberapa hal yang mungkin bisa meningkatkan dan mengoptimalkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari.

Pertama
, penyeberangan kiblat ilmu ke masing-masing kubu yang berbeda ternyata bisa saling memperkaya ilmu itu sendiri, dalam hal ini tentu saja Teologi dan Filsafat. Bisa jadi penyeberangan ini dianggap sebentuk “pengkhianatan” kaidah dan batas ilmu yang sudah ada, namun disisi lain, kita juga bisa melihat betapa pertanyaan-pertanyaan mendasar jika dijawab dari berbagai sudut mampu memberikan kemungkinan sebuah jawaban yang lebih kaya dan mengagumkan. Para tokoh di dalam buku ini, memberikan bukti yang tidak main-main bahwa ada kemungkinan untuk memberi tempat tinggal yang nyaman untuk persoalan mengenai Tuhan dalam dunia yang sekular dan dihantui atheisme.

Kedua
, metode hereustica mengajak kita untuk berfikir lebih jauh bahwa batasan-batasan ilmu yang kita miliki, yang sudah kita pelajari ternyata bisa dibetot-betot sampai ke titik terdalam. Saya pikir inilah salah satu ciri penting dari sebuah ilmu: sebuah kemungkinan untuk keluar dari darinya sendiri dan merasuki wilayah-wilayah yang mungkin selama dianggap gelap, tak memiliki relasi sama sekali, tak berhubungan sama sekali. Di titik ini, ilmu mendapat pemenuhannya: sebagai lautan yang tak bertepi, yang senantiasa menantang untuk dijelajahi.

Ketiga
, khusus untuk dialog antar agama. Selama ini, wilayah dialog model ini dianggap hanya dipermukaan saja, tidak mendalam karena tidak bersentuhan dengan doktrin-doktrin terdalam dan terkeras dari masing-masing agama. Di wilayah doktriner, dialog sering berhenti ditengah jalan. Namun lihatlah, Michael Henry untuk menyebut salah satunya saja, betapa dia bisa mampu masuk ke dalam lapisan terdalam doktrin kristiani dan membuka kesempatan untuk berdialog secara doktriner dengan agama-agama lain.

0 komentar:


Free Blogspot Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger