Kamis, 23 Oktober 2008

Menanti Sang Barbar




Judul: Invasions Barbares, Les
Sutradara: Denys Arcand
Skenario: Denys Arcand
Pemain: Remy Girard, Stephane Rousseau, Dorothee Berryman, Louise Portal, Yves Jacques

Film ini menurut saya bisa dibaca sebagai potret realistis dari fenomena sosial yang sedang berlangsung dewasa ini. Bagi saya, film ini mau mengatakan: manusia modern, sembari menampik sang barbar, sesungguhnya juga menanti sang barbar yang sama itu pula. Apa atau siapa yang dapat ditangkap sebagai sang barbar? Bisa apa atau siapa saja! Bisa kapitalisme, kebencian, kemarahan, ketakutan, kasih yang tak sampai, kata yang bungkam, drug, orang yang dibenci, anak yang murtad….. atau bahkan kematian. Yang jelas barbar di sini mau melukiskan sebuah situasi, kondisi yang tak ideal, yang asing, bahkan menakutkan (dan kita, manusia, sadari itu) tetapi tak terelakan (dan bahkan dalam kadar tertentu “ternikmati”) dalam alur hidup manusia. Saya kan mencoba menguraikannya dalam kalimat-kalimat dibawah.

Apa yang ingin diraih (bila itu tidak mungkin, dicicipi saja cukup) oleh manusia adalah kebahagiaan. Segala tindakan dan perilaku manusia selalu dalam konteks resistensi manusia mencari kebahagiaan. Di dalam film hal ini digambarkan melalui figur Sang Ayah yang di ujung waktunya ingin berkumpul dengan orang yang memiliki radiasi di dalam hidupnya. Sang putri yang dengan teknologi kontemporer berinteraksi, tanpa menyentuh, dengan sang Ayah karena ia sedang ada di tengah samudera. Tetapi kita lantas paham bahwa kebahagiaan di sini nyaris berhenti hanya pada pertemuan dan interaksi, tawa dan nostalgia. Sebentuk kebahagiaan yang instan (mungkin juga eutanasia diakhir film juga mau menggambarkan ini???). Titik. Dari sini kita disadarkan bahwa sesungguhnya hidup kita telah dilingkupi oleh ketakutan dan keragu-raguan. Ketakutan dan keragu-raguan akan hidup kita sendiri, akan kemampuan kita meraih kebahagiaan sejati. Selalu ada cara untuk menutup-nutupi itu, tapi pada akhirnya, mau tidak mau, terbuka juga.

Hal lain yang bisa dikatakan di sini adalah bagaimana manusia pada usianya yang telah matang sesungguhnya masih menyimpan “luka-luka dalam” dan immaturitas. Mereka yang berkumpul di rumah sakit adalah orang-orang tua yang serentak anak-anak (ketawa-ketiwi sekenanya, meledek sana-sini, dsb); juga anak-anak muda yang serentak begitu tuanya (seorang wanita muda yang mengajari bertahan hidup dengan obat, sang anak yang berusaha memahami sang ayah, dsb). Ada apa dengan manusia-manusia ini? Menurut saya, merekalah prototipe dari generasi-generasi luka sebagai produk dari sistem (dalam artian luas) yang luka, dan melahirkan generasi-generasi yang juga terluka. Dan bagus sekali digambarkan di sini: mereka semua dipertemukan dan berkumpul di rumah sakit: rumah orang-orang terluka, sebuah dunia yang menanti untuk disembuhkan atau mati.

Ini merupakan sebuah gambaran yang mengerikan dari dunia dimana kita sesungguhnya hidupi. Tapi apakah ini berarti film ini mau mendorong kita pada pesimisme? Nihilisme? Bagi saya tidak! Film ini justru mau menegaskan, lewat jalan yang lain (via negativa), apa yang yang mungkin luput dalam relasi kita, dalam penantian kita, atau bahkan dalam hidup kita: cinta. Kita sadar bahwa pada akhirnya kita membutuhkan ini. Ini juga sejenis barbar yang pada masa-masa lalu manusia kerap ditampik (direduksi, dipesimisi, dicurigai, dsb) karena begitu asing dan menakutkan (menakutkan karena di dalamnya ada tanggungjawab yang belum tentu setiap orang dengan rela hati menerimanya), tetapi serentak pula ini adalah hal yang paling dinanti-nantikan manusia di dalam hidupnya. Kebahagiaan dipahami dalam konteks cinta. Bila demikian maka yang terjadi bukanlah kebahagiaan yang instan tetapi yang sejati.

Kita memang hidup dalam situasi kontemporer yang bila kita menyadarinya membuat kita menggelengkan kepala dan mengelus-elus dada, tapi bukan berarti sudah tidak ada tempat buat cinta. Cinta inilah yang pada akhirnya membuat kita bisa tetap berdiri, meski pun sendirian, di dunia ini. Film ini mengajak kita untuk menanti sang barbar ini, bahkan mencari dan menyambutnya. Tetapi tentu tidak dengan tindakan yang sesungguhnya melawan cinta itu sendiri. Akhir kata: mari bersama menyambut sang barbar dengan senyum di ujung bibir, dengan “ya” di kepala, dan dengan maaf di hati.

0 komentar:


Free Blogspot Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger