
Judul : Kala Agama Jadi Bencana (When Religion Becomes Evil)
Pengarang : Charles Kimball (diterjemahkan oleh Nurhadi; kata pengantar oleh Sindunata)
Penerbit & tahun : Penerbit Mizan, 2003
Tebal : 360 hlm
Sebuah buku yang membedah potensi destruktif dari agama. Tapi jangan kuatir, sebagai sebuah peziarahan, agama pun bisa dihadirkan dan dialami sebagai jalan keselamatan, cinta, dan perdamaian. Dalam peziarahannya menuju autentisitas tersebut agama memerlukan kompas, yaitu tradisi dalam doktrin yang hidup: iman, harapan, dan kasih. Ini memang sebuah langkah mundur, tetapi bila seorang ada di tepi jurang yang menganga, langkah mundur adalah sebuah langkah yang arif dan bijaksana.
Belakangan ini banyak tangan menunjukkan jarinya kepada agama: tersangka utama berbagai realitas hitam di dunia, realitas yang menggambarkan bahwa dunia memang seakan-akan wadah malapetaka. Ini bukan hal yang baru, tetapi nuansa agama sebagai sumber, penyebab, dan alasan bagi kehancuran dan kemalangan umat manusia semakin mengental. Dan anehnya, memang banyak orang mengamini bahwa agama memang bisa menjadi sumber-sumber malapetaka yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini tentu bukan gambaran menyeluruh dari agama. Agama yang autentik bahkan bisa menghantar pada sebuah gambaran kedamaian yang juga tak terbayangkan. Tetapi tentu kita tidak bisa mengabaikan kenyataan yang sedang berlangsung saat ini. Hanya dengan masuk ke dalam kebusukan dan kerusakan serta kekorupan agama, kita bisa menemukan apa yang mungkin bisa dihindari di masa depan, sembari melihat kompas yang sebetulnya sudah kita pegang di tangan. Charles Kimball dalam bukunya ini mencoba untuk melakukan hal ini.
Dalam usahanya untuk menelanjangi agama yang secara kongret dihayati oleh para pemeluknya, Kimball mendiagnosa adanya 5 (lima) potensi kerusakan dalam agama; lima potret yang harus segera diwaspadai karena bisa menjerumuskan agama ke dalam sebuah lakon antagonis-destruktif. Pertama, potret agama yang mengklaim kebenaran yang mutlak dan satu-satunya ada dalam genggamannya sendiri. Kedua, potret kepatuhan yang luar biasa terhadap pemimpin agama, tanpa disertai sikap kritis. Agama yang merindukan dan menantikan zaman yang ideal, dan berusaha sekuat tenaga merealisasikannya sekarang merupakan potret yang ketiga. Potret yang keempat menghadirkan agama yang berbisnis: tujuan harus tercapai apapun caranya. Agama yang militan, yang tidak segan-segannya berteriak dan melakukan perang suci, dapat digambarkan dalam bingkai potret yang kelima.
Ini memang sebuah literatur yang lebih mau menggambarkan potret hitam dari agama, jadi jangan terlalu kaget bila di dalamnya kita akan menemukan betapa banyaknya gambaran real tentang bagaimana agama bisa menstir orang atau kelompok tertentu melakukan tindakan yang membuat kita menahan nafas dan mengelus dada. Tetapi Kimball tidak berhenti di situ. Ia juga mengarahkan kameranya pada sesuatu lansekap dari agama yang memungkinkan kita bisa bernafas dengan lega dan tenang: bahwa agama juga memiliki dan pernah mempraktekan beberapa tradisi yang saat ini bisa dihidupkan dan diintensifkan: iman, harapan, dan kasih (cinta).
Saat ini Agama memang bisa ditinggalkan oleh setiap orang, bahkan mungkin salah satu dari kita telah melakukannya (meski pun dalam tataran konseptual), tapi sebelum betul-betul meninggalkan agama baik bila kita membawa juga pikiran ini: apakah kita tidak membuang air mandi berikut dengan bayinya? Air mandi itu adalah kemungkinan kebusukan-kebusukan, ketidaktoleransian, kekorupan dari agama, dan si bayi adalah idealisme, tradisi, dan doktrin agama. Agama adalah sebuah peziarahan yang saat ini telah mengangkat dan menemani manusia dengan kesetiaannya, sebuah peziarahan yang siap untuk berkemas dan berjalan kembali dengan kompas yang ada di tangan.
Bagi mereka yang tertarik dalam hal studi keagamaan dan perbandingan antar agama, buku ini menjadi suatu pengantar untuk bisa masuk menelusuri interioritas agama dan manusia. Bagi mereka yang hendak membacanya: selamat membaca, selamat menatap ke depan: lansekap terbentang di depan dan ada harapan di sana.
Senin, 20 Oktober 2008
KETIKA AGAMA BERADA DI TEPI JURANG
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

ok mo saya setuju. Ada kasih dunia damai. Terus kalau kasih sudah ada buat apa donk ada agama?
BalasHapusWell, menurut saya ini pertanyaan yang agak aneh. Jawabnya susah-susah gampang. Tapi singkatnya begini, apa mungkin? Toh, bahkan ketika para nabi datang dunia ini tidak lantas penuh dengan kedamaian. Tapi, saya pikir kita harus berfikir lebih luas lagi. Kenyataan kita akan mereduksi agama kalo kita anggap agama sebagai alat menuju kebahagiaan....
BalasHapus