
Judul : Satu Bumi, Banyak Agama: Dialog Multi-Agama dan Tanggung Jawab Global (One Earth, Many Religion)
Pengarang : Paul F. Knitter (diterjemahkan oleh Nico A. Likumahua)
Penerbit & tahun : BPK Gunung Mulia, 2003
Tebal : xvii + 282 hlm
Adalah fakta bahwa dunia yang satu ini dihuni oleh beraneka ragam agama. Yang beraneka ragam tersebut tidak perlu diseragamkan, yang perlu adalah bagaimana menemukan pijakan kokoh untuk duduk bersama di meja perjamuan yang telah kosong agar yang beraneka ragam itu tidak saling memakan. Knitter mengusulkan agar bumi dan penderitaan menjadi santapan pagi bersama.
“Rubah (the fox) tahu beragam hal, tetapi landak (the hedgehog) hanya tahu satu hal besar.” (Archilocuschus, penyair Yunani).
Para teolog pluralis yang berkecimpung dalam hubungan dan dialog antar agama, bisa digolongkan dalam 2 katagori besar (tanpa bermaksud mereduksi pernik keberagamaan yang ada; sekedar mempermudah): Teolog “Landak”, yaitu mereka yang meyakini bahwa betapa pun beragamnya agama tetapi mereka bisa dihubungkan oleh satu pandangan, kebenaran tunggal; teologi landak merupakan sebuah sistem yang koheren sehingga heterogenitas agama dilihat bukanlah sebagai sesuatu yang chaos, tetapi bisa sepenuhnya bisa dimengerti dalam kerangka universal: bahwa ada Allah yang sama di sana. Di sisi lain, ada yang bisa disebut Teolog “Rubah” yang kekeuh melihat pluralitas agama sebagai kenyataan yang plural, sehingga mereka tidak berpretensi untuk meringkus agama-agama yang ada ke dalam suatu sistem tunggal.
Para Teolog “Landak” tidak akan pernah bisa mempertemukan para pemeluk agama yang berbeda di meja perjamuan yang sama, karena tidak semua agama yang ada meyakini bahwa di jantung setiap agama ada Satu Sistem Tunggal yang biasa disebut sebagai Allah/Tuhan (Kung & Kuschel: Etik Global, 1999). Selain itu juga ada “kendala teknis” yang bisa sangat menggangu jalannya dialog: bahwa ketika saya yang Katolik menggunakan kata “Allah” dalam dialog, belum tentu mereka yang Islam memahami sebagai Allah yang sama di dalam pikiran mereka. Maka bisa terjadi dalam sebuah dialog pemaksaan kekuasaan dan bukannya keselamatan bersama. Para teolog “Rubah” (khususnya Knitter), dengan segala keberatan yang mengelilinginya, mencari pijakan yang lain untuk menciptakan sebuah, istilah dari Knitter sendiri, “dialog yang korelasional dan bertanggungjawab secara global.” Pijakan itu tidak pada Allah yang sama tetapi pada bumi yang satu dan hembusan nafas setiap manusia yang senantiasa membaui penderitaan.
Dengan data yang begitu lengkap dan uraian yang meyakinkan Knitter menyodorkan kepada para pembaca suatu realitas yang hanya orang bebal yang tidak mengakuinya: bahwa penderitaan yang dialami manusia sudah begitu bersifat global dan secara kuantitatif mengerikan. Dan bila kita ingin keluar dari situasi ini tentu menuntut tanggung jawab yang global juga. Ini adalah pijakan pertama dimana setiap pemeluk agama bisa duduk berdampingan bersama. Pijakan kedua adalah penderitaan yang dialami bumi, tempat tinggal manusia. Bumi telah menjadi tempat bermukim yang tidak nyaman lagi. Ini bukan karena kesalahan bumi itu sendiri, tetapi karena manusia yang tidak tahu diri: memeras bumi sehingga yang tersisa hanyalah debu, abu, dan hutang untuk anak cucu manusia.
Yang harus terjadi dalam sebuah dialog antar umat beragama adalah penegasan kembali komitmen mereka akan soteria – kesejahteraan manusia dan lingkungan. Ini adalah kerinduan dan pijakan bersama di mana setiap pemeluk agama yang beragam bisa duduk berdampingan. Mungkin Knitter benar ketika menegaskan bahwa, meminjam istilah Schillebeeckx, tidak perlu dan tidak banyak berguna bagi manusia untuk mencari keselamatan di langit sana atau di dalam setiap sistem keagamaan tertentu, karena keselamatan ada di dalam dunia dan keselamatan itu hadir tatkala para penghuninya dan alam lingkungannya juga merasakan keselamatan yang juga dirindukannya.
Buku ini menyisakan sesuatu yang penting bagi para pembacanya (dan tentunya bagi mereka yang berkutat dalam dunia teologi): sejauh mana kepeduliaan dan kepekaan kita terhadap carut marut kenyataan kehidupan beragama kita. Bila kita mengatakan peduli, mengambil dan membaca buku ini adalah satu langkah awal yang sangat baik; satu langkah awal yang bisa menuntun kita pada ribuan kilo kepedulian lain. Bila kita tidak peduli biarkan saja buku ini tertanam di dalam tanah, agar rayap yang membacanya.
Senin, 20 Oktober 2008
EXTRA MUNDUS NULLA SALUS: DI LUAR DUNIA TIDAK ADA KESELAMATAN
Label: Agama, Pluralisme, Teologi
Diposting oleh tejo di 00.40
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Saya sangat setuju dengan apa yang diusulkan oleh 'bang' Paul F. Knitter.
BalasHapusBenar dan tidaknya keberagamaan kita dapat diukur dari bagaimana kita bisa 'mem-bumikan-nya', karena agama tidaklah mengajarkan kita untuk hidup di 'langit-baca alam mimpi' tapi ia seharusnya dan sejujurnya adalah jalan dan tuntunan agar kita dapat menjalani hidup dan kehidupan ini sebagai makhluk yang bisa saling melengkapi satu sama lain.
Satu kritik buat Penulis:
Selain itu juga ada “kendala teknis” yang bisa sangat menggangu jalannya dialog: bahwa ketika saya yang Katolik menggunakan kata “Allah” dalam dialog, belum tentu mereka yang Islam memahami sebagai Allah yang sama di dalam pikiran mereka.
Ada sedikit mis-interpretasi bahwa saya (Muslim) menggunakan term "Allah" dengan pemahaman hakikat yang ke-mungkin-an beda dengan apa yang dia (Paul)/Tejo (sang Kristus Indonesia):)(semoga ini bisa menjadi bahan dialog kita). Ke-berbeda-an itu 'mungkin'-sejauh apa yang saya pahami dari konsep ke-Tuhan-an Katholik/Kristen- adalah dalam rujukan "AKU" dan "DIA".
Sedangkan segala hakikat yang lain 'mungkin' memiliki interpretasi yang cenderung sama.
So... Tuhan dan segala atribut-Nya adalah dirinya sendiri, bukan yang lain.
Mari bersahabat dengan segala kreasi-Nya.